Oleh: Mia Rahmatun Nisa

Marhaban Ya Ramadhan. Telah datang bulan suci yang mulia, bulan penuh berkah, dan bulan penuh ampunan. Kewajiban bagi umat muslim untuk berpuasa selama satu bulan, selain berpuasa ada banyak ibadah lainnya yang dapat kita lakukan selama bulan Ramadhan, seperti sholat tarawih, I’tikaf, membayar zakat, dan bertadarus Al-Qur’an. Tadarus Al-Qur’an telah menjadi salah satu kegiatan tradisi yang dilakukan oleh umat muslim, berlomba-lomba untuk mengkhatamkan bacaan Al-Qur’an hingga juz terakhir yakni juz 30. Biasanya tadarus Al-Qur’an dilakukan secara bersama-sama di masjid-masjid ataupun musholah, namun adapula yang membaca sendiri di rumah tidak bersamaan. Lalu manakah yang lebih baik membaca sendiri atau bersama-sama? Bertadarus Al-Qur’an bukanlah soal lebih baik membaca sendiri ataupun bersama-sama, namun kita perlu mengetahui apa makna dari tadarus itu sendiri baik secara lughotan (bahasa) maupun istilahi (istilah). Secara bahasa kata تدارس  (tadarus) berasal dari kata درس  (darasa) yang berarti mempelajari, meneliti, mengkaji, menelaah, dan mengambil pelajaran. Menjadi tadarus karena adanya penambahan huruf ta’ (ت ) di awal kata dan huruf alif (ا) setelah huruf dal (د) sehingga menjadi تدارس يتدارس تدارسا (tadaarasa-yatadaarasu-tadaarusan). Kata تدارس  (tadarus) dalam ilmu shorof berasal dari wazanتفاعل ( tafaa’ala) yang memiliki faidah musyarakah yang artinya bersama-sama, saling antara dua orang atau lebih, sehingga dapat menjadi saling belajar mempelajari dengan lebih dalam. Sementara secara istilah tadarus berarti membaca Al-Qur’an secara bersama-sama, saling bergantian membaca dan menyimak.

Dalam buku Kosakata Keagamaan karangan M. Quraish Shihab, Kata tadarus itu sendiri bukan hanya digunakan sebagai kata untuk membaca Al-Qur’an, melainkan dapat digunakan oleh objek kata dan aktivitas lainnya. Jika objeknya bacaan maka ia memiiki arti terhafalkan atau dimengerti dengan baik isinya secara detail, kalau ia benda maka ia berarti lapuk karena sering digunakan. Kalau ia binatang maka memiliki arti ia jinak, kalau makanan maka ia dilahap dengan lezat. Kalau digunakan untuk buku atau ilmu maka ia berarti membahasnya secara terperinci. Diriwayatkan bahwa Rasulullah saw. Setiap tahun bertadarus Al-Qur’an di bulan Ramadhan bersama malaikat Jibril, dan pada tahun terakhir dari usia beliau, tadarus beliau dilakukan dua kali (HR. Bukhari dan Muslim). Melihat adanya peristiwa tersebut Nabi pun tidak sendirian dalam bertadarus Al-Qur’an, dalam artian adanya dua pihak yang saling berinteraksi. Selain itu Rasulullah Saw. Dalam sebuah hadis menyatakan, “Tidak berkumpul sejumlah orang di salah satu rumah Allah untuk membaca Al-Qur’an dan mentadarusinya, niscaya akan turun ketenangan untuk mereka, rahmat Allah akan meliputi mereka, para malaikat akan melindungi mereka, dan Allah menyebut mereka kepada makhluk-makhluk yang ada di sisi-Nya” (HR. Muslim). Karena tadarus Al-Qur’an berarti bukan hanya sekadar membaca Al-Qur’an, melainkan membaca sesuai dengan kaidah ilmu tajwid agar bacaan Al-Qur’an kita benar dan baik, maka diperlukanlah orang lain yang dapat mendengarkan bacaan kita benar atau tidaknya dan membenarkannya jika terjadi kesalahan. Selain itu tadarus Al-Qur’an juga bukan hanya membaca dengan sesuai kaidah tajwid, tapi juga mempelajari, mendiskusikan makna dari setiap ayat yang dibaca, serta mengamalkannya dengan mengambil pelajaran dari setiap ayat-ayat yang dibaca.

Maka bertadarus Al-Qur’an bukanlah hanya sekadar membaca akan tetapi membaca sesuai kaidah, mempelajari maknanya, memahaminya, mendiskusikannya, serta mengamalkan pelajarannya untuk kehidupan kita sehari-hari. Dalam bertadarus Al-Qur’an maka diperlukan seseorang yang telah mampu memahami bacaan Al-Qur’an dengan benar sesuai kaidah ilmu tajwid, mempelajari serta mendiskusikannyalah dengan seseorang yang ahli dalam bidangnya. Zaman sekarang tidak ada yang tidak bisa dipelajari serta jalan untuk mempelajarinya pun mudah, salah satunya dengan memanfaatkan teknologi melalui via daring dari media yang professional serta ahli dalam bidangnya.

Categories: Wawasan Kesantrian

Santri Mengglobal

Bantu santri untuk bisa belajar di luar negeri

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *