Pada saat memasuki bulan suci ramadan, setiap negeri memilik ciri khas masing-masing tergantung kebiasaan adat tersendiri. Tahun lalu saya masih merasakan bagaimana menyambut bulan suci ramadan di negeri piramida, lampu lampion yang menerangin setiap sudut jalan yang digantungkan dari satu flat ke flat yang lain, bermacama-macam varian rasa manisan khas mesir yang terpampang ditepi-tepi jalan raya dan pelang maidaturrahman (hidangan tuhan) yang sudah terpampang di setiap masjid dan tepi jalan, guna memberikan informasi bahwa nanti tempat tersebut menyediakan hidangan buka puasa gratis untuk para kaum muslim.

Tahun ini saya mulai kembali menyambut bulan suci ramadan di tanah air tercinta Indonesia, setelah 5 tahun lamanya meninggalkan tanah air guna menuntut ilmu di tanah piramida dan melalui bulan puasa disana Bersama teman-teman perantauan. Namun sepertinya ada hal yang berbeda dalam menyambut ramadan pada tahun ini, tidak hanya di Indonesia namun seluruh negara di dunia khususnya negara mayoritas penduduk beragama muslim. Di tengah Corona yang membuat masyarakat muslim di dunia merasa dilema antara terus bersedih karana virus tersebut dan senang karena ramadan telah tiba.

sumber foto sharm-club.com (kreasi warga Mesir dalam menyambut bulan Ramadan)

Saya dapat kabar dari sahabat saya yang masih berjuang menuntut ilmu di Mesir, karena virus corona sama halnya menyebar ke negara Mesir maka pemerintah Mesir melakukan tindakan tegas dalam pembatasan skala besar bagi semua penduduk baik warga asli Mesir maupun warga asing, sehingga maidaturrahman yang biasa dihidangkan di bulan suci ramadan selama 30 hari full kini tidak ada dan sholat teraweh pun sama di rumah masing-masing. Akan tetapi, meski tidak ada hidangan maidaturrahman di tempat umum atau tempat terbuka seperti di tepi jalan, para dermawan masih saja melakukannya, yaitu memeberikan nasi box (maidaturrahman)dengan cara membagikannya langsung untuk dibawa pulang, entah itu di restoran seperti restoran hadramaut dsb. Terkhusus mahasiswa, mereka cukup membawa poto copy paspor dan menyerahkan nya kepada penjaga yang membagikan nasi dan sudah bisa pulang dengan membawa 1 porsi nasi untuk berbuka. Dan begitupula warga Mesir masih sempat memasang Pernak – Pernik yang menggantung di sisi apartemen sehingga menghiasi sudut apartemen dan jalan, hal ini guna membuktikan bahwa mereka tetap gembira memasuki bulan suci ramadan.

Kabar gembira bagi pemburu maidaturrahaman di Mesir, meski ditengah pandemi covid 19, para muhsinin masih menyediakan hidangan untuk berbuka, namun tidak untuk makan ditempat melainkan take away 😃

Dan hal serupa pun sama dilakukan oleh warga Turki, saya bertanya juga kepada teman saya yang sedang melanjutkan studinya di Keyseri Turki, dia bilang, meski ramadan tahun ini terlihat sepi karena Lockdown, tak ramai seperti ramadan tahun kemarin namun masih ada warga Turki yang memberikan sembako secara gratis bagi para pelajar dan warga yang kurang mampu.

Sungguh ini adalah hal yang amat luar biasa, pandemi covid 19 yang melanda umat manusia di dunia tidak sama sekali membuat umat muslim goyah untuk melakukan kebaikan dan meningkatkan kualitas iman dengan berbagi di bulan yang amat mulia ini. Memang sudah sepatutnya seperti itu, bagi siapapun yang sudah Allah berikan keberkahan dalam rezekinya untuk senantiasa berbagi kepada mereka yang membutuhkan.

Dalam kondisi seperti ini, mungkin sangatlah sulit untuk kita menenangi jiwa kita sendiri, berbeda ketika kita menasehati dan memotivasi orang lain untuk tetap optimis dan bersabar. Umat manusia yang kini dilanda kebingungan, terkhusus saudara se tanah air kita di Indonesia, ekonomi yang kini tidak stabil, kerinduan yang amat berat kepada keluarga tertahan oleh larangan mudik dan kondisi lainnya.

Problematika kehidupan memanglah sangat berat ketika memikulnya sendiri namun beban itu akan menjadi ringan bila kita sadar bahwa kita selaku umat manusia masih memiliki tempat sandaran yaitu tuhan yang maha kuasa. Wabah virus yang masih berlanjut di tengah bulan suci ramadan bukanlah alasan bagi kita untuk tidak gembira dalam menyambut ramadan dan bukan juga alasan untuk tidak meningkatkan kualitas ibadah kita, justru musibah yang masih terus melanda umat manusia ini, maka ramadan lah Allah hadirkan sebagai obat dan pelipur segala kegundahan, dalam sabda rasulullah saw :

من فرح بدخول رمضان حرم الله جسده على النيران

Artinya : Barang siapa senang dengan masuknya dan datangnya bulan ramadan, maka Allah mengharamkan jasadnya masuk neraka.

Sabda nabi SAW mungkin cukup untuk menjadi pendorong semangat bagi kaum muslim di dunia terkhusus masyrakat Indonesia dalam melaksanakan puasa ramadan ditengah musibah yang menimpa, karena tidak ada alasan bagi seorang yang beriman untuk bersedih ketika masuk kedalam bulan mulia. Seharusnya momen inilah yang menjadi perisai utama kita untuk senantiasa memperbanyak berdo’a agar wabah ini segera berlalu dan kita dijadikan hamba yang selalu bersyukur dan bertakwa.

Saya meyakini betul, bila dipikir secara rasional mungkin kondisi ini amatlah menyakitkan sekali, bila dirasakan oleh orang-orang yang secara ekonomi sederhana atau pas-pasan, tindakan PSBB yang di layangkan pemerintah terkadang membuat sebagian masyarakat sesak dan tak berdaya. Mengeluh tak mebuatkan semua keadaan menjadi luluh, menangis tak membuat kondisi membaik , namun bila keluhan dan tangisan itu semua kita pasrahkan kepada yang maha kuasa bisa sedikit memberi kita ketenangan dari sesaknya ketergantungan terhadap selain tuhan.

Prolog di awal semestinya memberikan sebuah gambaran nyata, kesusahan yang kita anggap sangat membebani hidup kita ternyata dirasakan oleh orang-orang diluar sana seperti penduduk Mesir, namun mereka nyatanya masih sanggup menyambut ramadan dengan memasang pernak Pernik disisi gang apartemen mereka meskipun tidak semeriah seperti tahun -tahun sebelumnya, maka dari itu masih Panjang bulan ramadan ini, tersenyumlah dan bergembiralah. Karena sungguh merugilah kita kalau menghabiskan bulan mulia ini dengan kegelisahan dan kekecewaan seakan kita tak memiliki tuhan.

Darma Ami Fauzi
Depok, 30 April 2020


0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *