Dalam banyak literatur tasawuf, termasuk di antaranya kitab Ihya ‘Ulmud-Din karya Imam Al-Ghazali (w 505 H) dijelaskan bahwa tingkatan orang yang berpuasa terbagi menjadi tiga; umum, khusus, dan sangat khusus. Klasifikasi ini bergantung pada kualitas dan bobot keimanan orang yang berpuasa. Ada yang puasanya hanya menahan lapar dan dahaga, adapula yang sungguh-sungguh menjalankannya dengan berupaya menjalankan nilai-nilai ketakwaan.

Terlepas dari klasifikasi orang yang berpuasa tersebut, sejenak kita kembali menginsafi bahwa dalam puasa ini ada nilai-nilai yang dapat menghadirkan cahaya ilahi di dalam jiwa, yang dengan cahaya itu orang akan hidup damai dan tetap berada dalam jalan yang diridhai-Nya. Dalam Al-Qur’an Allah SWT berjanji akan memberikan cahaya-Nya kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya

يَهْدِى اللهُ لِنُوْرِهِ مَنْ يَشَاءُ

Artinya: “Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki” (QS An-Nur: 35)

Agar termasuk kepada orang-orang yang dikehendaki oleh Allah untuk mendapatkan cahaya-Nya, perlu ada upaya-upaya yang harus dilakukan oleh seorang hamba yang dalam dunia tasawuf biasa disebut mujahadah. Anatara lain dengan melakukan empat hal;

  1. ‘Uzlah/menyendiri, yang dimaksud dengan kata ini adalah berpaling dari hal-hal yang buruk dan tidak bermanfaat. Dalam ibadah puasa kita dituntut untuk melakukan ‘uzlah dari berbagai perbuatan yang dapat menggrogoti pahala dan nilai-nilai puasa, sehingga puasa kita lebih berkualitas.
  2. As-Sukut/diam, dalam ibadah puasa, kita dituntut agar menjaga lisan dan lebih berhati-hati dalam berbicara. Sebagai misal, berkata bohong, menggunjing, dan bertangkar, semua itu dapat menggugurkan pahala puasa.
  3. As-Sahr/bangun malam, di bulan ramadan ini kita juga dididik agar terbiasa bangun malam, anatara lain bangun di waktu sahur. Dalam surat Adz-Dzariyat ayat 18 dijelaskan bahwa diantara ciri orang yang bertakwa itu adalah mereka yang senantiasa beristigfar di waktu sahur.
  4. Al-Ju’/lapar, berpuasa tidak makan dan juga tidak minum seharian, setidaknya ia bisa menginsafi, bagaimana rasanya menjadi orang-orang kelas bawah yang hidupnya serba kekurangan dan kesulitan. Dengan lapar dan dahaga itu diharapkan dapat terbangun rasa kepedulian terhadap sesama.

Demikian empat upaya menjaga kualitas puasa, semoga ibadah kita selalu ada dalam ridha-Nya.


0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *