Pendidikan adalah hak setiap warga negara. Pemerintah harus memberikan hak pendidikan kepada semua warganya tanpa membeda-bedakan apapun, baik segi etnis, suku, budaya, bahasa, agama dan lain sebagainya.

Karena pendidikan merupakan sarana untuk mencapai kemajuan bangsa, dengan pendidikanlah kemajuan suatu bangsa bisa diraih. Tak terkecuali adalah memberikan pendidikan kepada anak-anak Indonesia yang berada di luar negeri, sebab kebanyakan anak-anak TKI yang berada di luar negeri kurang mendapat perhatian lebih dari pemerintah, utamanya dalam hal pendidikan. Jika pada bagian pertama penulis melawat pendidikan anak TKI di Negeri Jiran, lebih tepatnya di Pusat Pendidikan Warga Negara Indonesia, Klang, Selangor. Kini mari kita melawat pendidikan di Sekolah Indonesia Johor Bahru (SIJB), Malaysia.

Dari segi kondisi bangunan, jumlah guru, sarana prasarana dan fasilitas Sekolah Indonesia Johor Bahru jauh lebih baik dari pada Pusat Pendidikan Warga Negara Indonesia Klang, Selangor. Sekolah Indonesia Johor Bahru atau yang biasa disebut dengan SIJB ini didirikan untuk memenuhi hak pendidikan untuk anak-anak para pekerja asal Indonesia yang berada di sekitar Johor Bahru. Pasalnya terdapat beberapa anak-anak Indonesia yang tidak berkesempatan mengenyam pendidikan di Sekolah Kebangsaan Malaysia atau Sekolah Lokal, disebabkan terdapat beberapa persyaratan yang tidak memenuhi atau kurangnya dokumen. Atas dasar itu, Pemerintah Indonesia melalui KJRI Johor mendirikan sekolah yang dikhususkan untuk anak-anak Indonesia yang berada di wilayah Johor Bahru, Melaka, Seremban dan sekitarnya.

Sekolah Indonesia Johor Bahru didirikan pada tahun 2014, dengan jenjang pendidikan Sekolah Dasar sampai Sekolah Menengah Pertama. Dengan jumlah murid pada saat itu, hanya berjumlah 25 orang. Namun, seiring berkembangnya waktu kini SIJB memiliki ratusan siswa-siswi dari kelas satu Sekolah Dasar (SD) sampai kelas sembilan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Sekolah Indonesia Johor Bahru terletak di belakang Kantor Konsulat Jendral Republik Indonesia Johor Bahru (KJRI Johor Bahru) di kawasan Taat, Johor Bahru, Malaysia. SIJB ini tidak berdiri sendiri, namun menginduk ke Sekolah Indonesia Kuala Lumpur (SIKL) dengan nama asal Indonesian Community Centre (ICC). Dan siswa-siswi disini mendapatkan ijazah resmi dari Pemerintah Indonesia, sehingga ketika anak-anak para TKI ini kembali ke tanah air, mereka bisa melanjutkan pendidikan secara normal dan mudah sebagaimana sekolah-sekolah di Indonesia lainnya.

Kurikulum yang digunakan sekolah ini menggunakan seperti kurikulum pendidikan di Indonesia. Berbeda halnya dengan PPWNI yang menggunakan kurikulum pendidikan Malaysia. Oleh sebab itu, Sekolah Indonesia Johor Bahru ini dikategorikan sebagai salah satu sekolah formal resmi yang berada di Luar Negeri. Semua anggaran pendidikan, gaji guru berasal dari Pemerintah Indonesia. Selain semua ditanggung oleh Pemerintah, kondisi bangunan gedung sekolah ini jauh lebih baik dibandingkan dengan PPWNI Klang. Pasalnya setiap kelas memiliki ruang kelas masing-masing dengan fasiltas yang jauh lebih baik dan memadai. Guru disini pun sangat mencukupi, terdapat kurang lebih sekitar 20 guru yang mengajar di Sekolah Indonesia Johor Bahru ini. Sangat berbanding terbalik dengan kondisi  sekolah PPWNI yang hanya memiliki empat ruang kelas, setiap ruang kelas diisi oleh dua sampai tiga kelas dari jenjang kelas satu sekolah dasar sampai kelas sembilan sekolah menengah pertama dengan hanya terdapat 3 orang guru.

Sebagian besar orang tua anak-anak yang sekolah di SIJB ini bekerja sebagai buruh di sektor perladangan, kilang, manufaktur, atau sebagai pekerja rumah tangga dan lain sebagainya. Hampir sama dengan kondisi anak-anak di PPWNI, anak-anak di SIJB ini juga kebanyakan kurang mendapatkan perhatian lebih terkait pendidikan dari orang tuanya. Sebab orang tua mereka sibuk dengan pekerjaannya hingga terkadang lupa memberikan perhatian ataupun mendidik anak-anaknya. Walaupun ada juga anak-anak pejabat KJRI ataupun anaknya orang berpendidikan yang bersekolah di SJIB. Namun, tetap mayoritas yang bersekolah di SIJB ini anak-anak buruh seperti yang telah dijelaskan diatas, kurang memberikan perhatian lebih kepada anak-anaknya.

Salah seorang pimpinan di Sekolah SIJB Bapak Dodi mengatakan “ Ya seperti inilah kondisi mereka ini, karena kebanyakan yang bersekolah disini rata-rata anaknya para TKI yang sibuk bekerja, hingga terkadang lupa memperhatikan dan mendidik anak-anaknya. Walaupun disini juga ada anaknya ilmuan hebat. Ada anak disini Bapaknya seorang ilmuan, hingga di Malaysia ini ia mempunyai hak paten di salah satu perusahaan terkenal di Malaysia. Ia sengaja tidak mau balik ke Indonesia, karena ia sadar kalau orang-orang pintar di Indonesia itu kurang dihargai. Makanya ia memilih tinggal di sini yang lebih menghargai orang-orang pintar.”

Selain itu, karena anak-anak Indonesia yang tinggal di Malaysia ini mempunyai dwi-kewarganegaraan, maka perlu lebih ditanamkan rasa nasionalisme dan cinta tanah air Indonesia, serta pengetahuan tentang ke-Indonesia-an. Oleh karena itu, penulis mengajak kepada seluruh pemuda Indonesia, terkhusus para santri Indonesia. Jika mempunyai waktu, rezeki dan kesempatan. Mari luangkan untuk memberikan motivasi dan sharing ilmu serta pengalaman kepada mereka putra-putri Indonesia yang berada di Luar Negeri, terkhusus di Negeri Jiran, Malaysia.

Oleh : Muhammad Alvin Jauhari, Alumni IICS 2019, Mahasiswa Hubungan Internasional UIN Sunan Ampel Surabaya, Santri Pondok Pesantren Mahasiswa Al-Jihad Surabaya dan Alumni Pesantren Tebuireng & Madrasah TBS Kudus.


Santri Mengglobal

Bantu santri untuk bisa belajar di luar negeri

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *