Catatan menjadi muslim Indonesia di Belanda (part 10)

Bulan Ramadhan diyakini umat Islam sebagai bulan penuh berkah. Ya, saya pun ‘meyakini’ hal tersebut sebagaimana saya juga merasakan langsung salah satu berkah Ramadhan yang Allah janjikan ini. Berkah itu adalah ‘mengunjungi kota Barcelona.’

Sebagai salah seorang fans klub sepak bola Barcelona, tidak ada yang paling ‘membahagiakan’ selain bisa melihat dan melawat langsung tempat dimana Lionel Messi dkk bermain bola. Dan Allah izinkan saya mewujudkanya di bulan Ramadhan yang penuh berkah di tahun 2017.

Di sela-sela mengerjakan tesis dan berjibaku dengan padatnya aktivitas akademik lainya, saya memutuskan untuk melakukan short-escape meninggalkan Amsterdam beberapa hari untuk mendapatkan tambahan inspirasi dan pengalaman baru, paling tidak menghibur diri dari ‘jenuhnya’ menulis tesis dan tugas penelitian lainya.

Saya pikir, Spanyol adalah negara tujuan yang paling tepat. Selain karena benang merah sejarah peradaban islam di negara matador yang cukup menarik untuk dikaji, Spanyol adalah negara dimana klub sepak bola ‘FC Barcelona’ berada. Saya pernah berdoa secara khusus kepada Tuhan, agar Ia kasih saya kesempatan mengunjungi lima tempat ‘impian’ di dunia, Makkah al-Mukarromah dan Madinah al-Munawwaroh di Saudia Arabia, Jerussalem di Palestina, Vatikan di Italia dan Barcelona di Spanyol. Atas izin Allah, semuanya sudah terwujud dan akan saya ceritakan secara khusus di catatan lainya alasan mengapa saya begitu berharap bisa mengunjungi lima tempat tersebut. 

Saat sudah mantap ingin pergi ke Spanyol. Gayung bersambut. Beberapa teman saya yang juga mahasiswa asal Indonesia di Amsterdam (aktivis PPI Amsterdam 2017) juga sedang merencanakan program untuk ‘berlibur’ ke Spanyol. Tanpa pikir panjang saya langsung gali informasi seputar rencana mereka tersebut; kapan berangkatnya, siapa saja yang berangkat, kota apa saja yang akan dituju selama di Spanyol juga teknis keberangkatanya. Setelah informasi lengkapnya saya dapatkan, ndilalah, hampir semua jadwal yang mereka rencanakan sesuai dengan yang saya harapkan, tentang siapa saja yang berangkat, bepergian di waktu yang tepat (saat saya tidak ada jadwal bimbingan khusus), juga kota yang akan dituju selama di Spanyol, Malaga, Cordoba, juga Barcelona. Walau pada akhirnya, saya hanya bisa ikut full saat di Malaga dan Barcelona saja. 

Picture 1: Tiket perjalanan Amsterdam – Barcelona (dok.pribadi)

Itinerary perjalanan sudah disiapkan. Waktu keberangkatan pun tiba. Kami bertolak ke Barcelona dari bandara Schipol Amsterdam di tanggal 13 Juni 2017, tepat pukul 06.00 pagi. Selepas tarawih di PPME Al-Ikhlas Amsterdam saat itu jam 00.30 CET, saya memutuskan untuk langsung pergi ke Bandara Schipol, memilih sahur disana sambil menunggu waktu boarding pesawatnya. Lebih baik nunggu di bandara, daripada harus ketinggalan pesawat, pikir saya.

Pesawat yang kami gunakan saat itu adalah Transavia HV 5131 tujuan Amsterdam-Barcelona. Untuk kalangan mahasiswa seperti saya, pesawat ini adalah salah satu yang paling affordable untuk ukuran kantong mahasiswa di eropa. Selain harganya yang murah, saya juga tentunya mempertimbangkan keamanan dan keselamatan saat perjalanan dari pihak maskapainya.

Perjalanan dari Amsterdam ke Barcelona membutuhkan waktu kurang lebih 2 jam. Setibanya di Barcelona, kami langsung bergegas menuju penginapan di sekitar pusat kota Barcelona. Selama di Barcelona, ada sedikitnya lima destinasi utama yang akan kami kunjungi, yaitu: Sagrada familia, Cassa Milla, stadion Camp Nou, Plaza de Espana, dan yang terakhir Pantai Barcelona (Barceloneta beach). Dalam tulisan ini, saya tidak bermaksud menceritakan perjalanan saya ke semua destinasi tersebut, tetapi hanya dua tempat tujuan saja yang sampai saat ini kisahnya masih membekas dalam benak dan ingatan, yaitu Sagrada Familia dan stadion Camp Nou. 

Tujuan pertama yang kami datangi adalah Sagrada Familia. Selama perjalanan dari hotel ke Sagrada familia, saya sempat dibuat tercengang dengan pemandangan yang saya anggap spesial dan luar biasa. Tidak sekali dua kali saya melihat sejumlah Muslim/Muslimah berjalan di pedestrian kota, bahkan tidak sedikit dari mereka yang bergerombol. Hipotesis saya, identitas dan simbol yang mereka kenakan cukup memberi informasi bahwa mereka adalah umat Islam. Ada yang berkerudung juga ada yang menggunakan peci-peci khas Maroko dan khas negara timur tengah sebagaimana yang juga sering saya temui di Belanda. Pun, saya melihat ada sebuah masjid yang cukup besar (untuk ukuran di eropa) yang lokasinya tidak terlalu jauh dari sagrada Familia ini, hanya sekitar 10 menit perjalanan dengan mobil. Informasi yang saya dapat dari plang yang tertulis di depan masjid itu adalah ‘Catalan Islamic Cultural Centre’. ‘Kok bisa ya ada masjid sebesar ini di Barcelona’, ujar saya penasaran dalam hati.

Rasa penasaran saya pun terjawab. Sesampainya di Sagrada Familia, saya bertemu dengan salah seorang muslim Barcelona asal Maroko, Abbas namanya. Denganya saya berdiskusi panjang lebar seputar Islam di Barcelona. Ia juga menceritakan bagaimana pesan damai dan toleransi di Barcelona dari dibangunya ‘Sagrada Familia’ yang merupakan salah satu gereja terbesar di Spanyol ini.

Ohya, saat di Barcelona, kami memlilih untuk ‘tetap berpuasa’, karenanya tidak banyak berjalan kaki yang berpotensi menyebabkan lelah dan menghabiskan tenaga. Saat di Sagrada Familia pun saya  memilih untuk santai dan ngbobrol dengan Abbas dan mengabadikan momen disana dengan teman-teman seperlunya saja. Kepada saya, Abbas bercerita bahwa napak tilas sejarah peradaban dan penyebaran Islam di tanah Andalusia, khususnya di Barcelona, seakan tidak pernah pupus di lekang masa. Saat ini (di tahun 2017), umat Islam di Spanyol mencapai angka kurang lebih 2 juta jiwa atau sekitar 4% dari dari total kurang lebih 46 juta jumlah penduduknya. Dan, Barcelona adalah kota kedua dengan jumlah penduduk Muslim terbanyak di negara tersebut dengan sekitar 300.000 jiwa. Jumlah umat Islam disana banyak didominasi oleh Muslim pendatang asal maroko, Pakistan, Bangladesh, juga Nigeria.

Dari obrolan singkat denganya, saya berpikir, Abbas tampak sangat menguasai sejarah dan informasi tentang Islam di Barcelona. Ia juga melanjutkan ceritanya seputar pengalaman berpuasa Ramadhan disana, dikatakanya, puasa tahun ini cukup berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, jelasnya.

Maksudnya bagaimana? Saya balik bertanya

Iya, tahun ini kita berpuasa dengan waktu yang cukup lama, sekitar 17-18 jam. Dan dalam kurun waktu yang panjang tersebut, terik matahari seperti ‘tidak bersahabat’ pada kita, panasnya tidak seperti biasa-biasanya. Saya tidak paham maksud perkataan ‘terik matahari yang tidak bersahabat’ yang diucapkanya ini. Tetapi memang, saya rasakan panas terik di kota Barcelona ini sangat jauh berbeda dengan yang biasanya saya rasakan di Amsterdam, walaupun untuk durasi puasanya tidaklah jauh berbeda. Tetapi, sebagai Muslim, saya percaya, Tuhan tidak mungkin pernah membebani hambanya di luar batas kemampuanya, termasuk urusan puasa ini. Toh, dalam puasa juga ada rukhsah untuk tidak berpuasa yang sewaktu-waktu bisa digunakan oleh umat Islam manakala tidak sanggup/kuat berpuasa.

Lebih jauh lagi, Abbas juga ceritakan bahwasanya kota Barcelona ini adalah kota yang relatif aman dan toleran dalam urusan kehidupan beragama. Dibangunya Sagrada Familia yang ada di depan mata kita ini salah satu bukti dan simbolnnya, ujarnya.

Menurut dia, Gereja Sagrada Familia yang dibangun di pusat kota Barcelona ini tidak hanya menjadi magnet bagi jutaan turis mancanegara tiap tahunya, tetapi juga simbol toleransi beragama. Gereja besar yang sudah mulai dibangun pada tahun 1882 dan berdekatan dengan Catalan Islamic Cultural Centre ini juga menjadi simbol penegas bahwasanya umat beragama bisa hidup berdampingan side by side untuk mewujudkan nilai-nilai kebajikan yang diajarkan Tuhan tanpa harus terus menerus mencari pembenar dalam dogmanya untuk menjatuhkan ‘martabat beragama’ satu-sama lainya.

Lama mengobrol dengan Abbas, saya pun harus berpisah denganya. Karena harus melanjutkan perjalanan ke tujuan berikutnya. Saking asyiknya ngobrol, kami sampai lupa dan tidak sempat bertukar nomor telfon dan berfoto Bersama. Tidak apa apa, yang paling penting dari pertemuan singkat denganya adalah ilmu yang bermanfaat yang saya dapat darinya dan masih membekas hingga saat ini. Semoga Abbas selalu ada dalam lindungan kuasa dimanapun ia berada.

Rombongan kami pun akhirnya tiba di markas besar Barcelona, stadion Camp Nou. Melihat stadion megah ini dengan mata kepala sendiri membuat mata saya tidak kuasa untuk tidak mengeluarkan air mata. Ungkapan rasa syukur atas nikmat yang kuasa yang mengabulkan mimpi dan harapan para hambanya.

Picture 2: Foto di depan gerbang selamat datang di stadion Camp Nou, Barcelona (Dok. pribadi)

Sebenarnya, saya datang ke Camp Nou di waktu yang tidak tepat. Di saat kompetisi dan semua jadwal pertandingan liga Spanyol sudah selesai semenjak akhir bulan Mei lalu dengan Real Madrid (sang rival tim) keluar sebagai juaranya. Alhasil, kedatangan saya ke Camp Nou tidak untuk mellihat pertandingan sepak bola secara langsung, melainkan ‘ziarah singkat’ ke tempat dimana punggawa katalan ini bertanding juga menyimpan koleksi trofi juaranya.

Saya terus berujar dalam hati, ‘berkunjung ke markas besar tim sepak bola idaman dan juga merupakan salah satu tim terbaik di dunia adalah sebuah kebahagiaan dan keberkahan tersendiri’. Walaupun untuk masuk ke dalam stadion megah ini (stadion tour) harus merogoh kocek yang tidak sedikit, sekitar 25 euro (atau kurang lebih IDR 400.000). Namun, semuanya terbayar dengan kenangan dan pengalaman yang cukup ‘memenuhi ekspektasi’ seperti: melihat koleksi trofi punggawa katalan, berkeliling di ruangan press-conference yang biasanya digunakan para pelatih dan anggota klub untuk dialog dan liputan bersama awak media seusai pertandingan, menyusuri ruang ganti kostum pemain, baik untuk punggawa tuan rumah maupun tim tamu, juga yang ‘terpenting’ merasakan atmosfer bangku stadion dan lapangan hijau Camp Nou yang seringkali ada dalam imajinasi dan mimpi. Alaa kulli hal Alhamdulillah.

picture 3 : Koleksi trofi FC Barcelona yang dipajang di stadion Camp Nou (Dok.pribadi)

Perjalanan di Camp Nou ini semakin meyakinkan saya akan kekuatan mimpi dan berharap dengan penuh ‘husnudzon’ kepada yang maha kuasa. Tentunya tidak cukup hanya dengan sekedar bermimpi dan berdoa, tetapi juga harus diimbangi dengan usaha. Kalau dulu saya hanya bisa bermimpi dan berdoa atas apa yang saya impikan tersebut, ternyata Tuhan yang maha kuasa menjawab dengan mengabulkan semua doa dan harapan satu persatu  dengan caranya yang unik dan luar biasa, dengan jalan yang tidak pernah disangka-sangka tentunya. 

Akhir kata, bagi pecinta klub FC Barcelona, ada satu hal yang patut juga disyukuri tentang Barcelona. Selain karena kota ini mempunyai klub sepak bola papan atas dunia, Barcelona juga menjadi salah satu tempat bersejarah dan cukup berpengaruh bagi perkembangan Islam di Spanyol dan Eropa. Bersambung ke tulisan selanjutnya!

picture 4: tampak lapangan utama stadion Camp Nou, Barcelona (dok. pribadi)

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *