Oleh: Muhammad N. Hassan

Sudah menjadi hal biasa bagi saya menjalankan ibadah puasa Ramadhan di tanah rantau atau tidak bisa merasakan hangatnya kumpul dengan keluarga saat bulan Ramadhan. Karena sejak SD sampai SMP kalau memasuki bulan puasa, saya lebih sering tidak tinggal di rumah kakek dan nenek. Setelah masuk Madrasah Aliyah, saya memilih untuk mondok. Apalagi kalau bulan Ramadhan, pengasuh membebaskan santrinya ikut pondok Ramadhan di mana saja. Selama tiga tahun saya merasakan berganti-ganti tempat. Sampai menginjak masa di mana saya duduk di bangku perkuliahan pun sama. Bahkan sampai saya menikah di tahun 2018 pun tetap jauh dari orang tua dan saudara. Karena tinggal bersama mertua.

Selama merantau, ada beragam cerita dan pengalaman yang saya rasakan terkait buka bersama, mencari takjil, tarawih di tempat yang berbeda bahkan sahur on the road cukup berkesan dan banyak yang masih saya ingat. Jika saya mencoba kilas balik, banyak momen yang seharusnya menarik untuk sekedar dikisahkan kepada pembaca sekalian, pastinya bagi yang mau menyimak saja. Terutama saat saya menempuh studi magister dan melakukan riset bidang Nano-sains di Bangkok Thailand.

Bayangan saya, negara dengan pemeluk agama Islam minoritas pasti susah mencari makanan halal. Terutama saat bulan Ramadhan tiba, saya sempat khawatir tidak ada acara buka bersama di masjid seperti di Indonesia. Rupanya fakta di sini membuktikan bahwa meskipun Thailand adalah negara dengan mayoritas penduduknya pemeluk agama Budha, ternyata aktifitas ibadah umat agama Islam masih bisa semarak. Tidak kalah dengan negara mayoritas muslim seperti halnya Indonesia.

Rutinitas Ramadhan Tahun Lalu

Setiap bulan Ramadhan di sini, saya memiliki tiga rutinitas umum. Pertama, safari masjid. Sudah menjadi jadwal saya dan sebagian teman Indonesia di sini sepulang dari kampus atau setelah shalat asar sudah necis pakai kopyah dan membawa sarung di tas, melipir ke masjid-masjid sekitar Bangkok. Kami sudah memegang referensi dari para senior terdahulu. Tujuannya mencari takjil dan mengikuti tarawih di masjid yang berbeda. Sebut saja Masjid Al-Istiqomah, Darussalam, Darul Aman, Masjid Indonesia, Masjid Jawa, Masjid Bang Uthit Turkey, Masjid Baan Oou, Masjid As-Safier KBRI Bangkok, dan masjid di Islamic Center Thailand.

Pengalaman saya yang berkesan di sini adalah saat berkunjung ke masjid Jawa. Sebuah masjid berornamen khas Jogjakarta yang berada di kampung Jawa Bangkok. Menurut sejarah, masjid ini didirikan oleh perantauan asli Jawa pada tahun 1906. Di sini saya benar-benar merasa seperti sedang berda di rumah sendiri. Tidak jarang saya lihat para jamaah memakai sarung, batik, dan peci hitam. Untungnya lagi, saat saya nimbrung dengan mereka dan memperkenalkan diri kalau saya juga orang asli Jawa Timur Indonesia, mereka menyambut dengan begitu ramah dan saya disuguhi banyak makanan saat buka puasa. Waktu terawih saya juga ngobrol dengan imam masjid yang kebetulan beliau asli Aceh dan sedang pengabdian di sana.

Foto penulis di depan salah satu masjid di Thailand.

Kedua, mengikuti peringatan malam nuzulul quran. Di setiap 17 Ramadhan di masjid Al-Istiqomah dekat tempat tinggal kami, jalan Prachauthit gang no 69 Thungkhru Bangkok selalu mengadakan peringatan nuzulul quran. Kegiatannya tersebut ada panggung nya, lomba-lomba untuk anak TPQ, khataman, malamnya ada ceramah agama, dan makan bersama pakai talam. Mirip-mirip di Indonesia. Masjid ini selain dekat dengan tempat tinggal saya (kurang lebih berjarak setengah kilometer), aktifitas peribadatannya kalau saya amati 100% serupa dengan jamaah Nahdatul Ulama’ (NU). Mereka tarawih 20 rakaat, shalat subuh pakai qunut, ada istighosah dan tahlilan, adzan Jumat dua kali, kalau maulud nabi ramai baca shalawat diba’ dan barzanji, saya amati juga mereka kerap kali pergi berziarah kubur. Karena banyak kesamaan inilah saya hampir dapat dikatakan sering berdiskusi dengan para jamaah masjid Al-Istiqomah. Sehingga mungkin hampir 20-an orang saya kenal namanya.

Ketiga, ikut maleman 10 hari malam terakhir di bulan Ramadhan. Kalau akhir bulan Ramadhan ini, saya dan teman-teman biasanya pergi ke masjid KBRI karena ada agenda buka bersama bapak-ibu Duta Besar, para atase, dan staff kedutaan. Di momen ini mayoritas WNI yang tinggal di Bangkok baik itu mahasiswa/pelajar maupun yang statusnya bekerja pasti datang. Tidak jarang beberapa yang beragama non-muslim juga ikut buka bersama. Setelah buka bersama biasanya dilanjut dengan shalat tarawih dan kultum (tahun-tahun lalu selalu ada da’i utusan dari Yayasan Dompet Duafa).

Selepas acara dari KBRI, saya dan sebagian teman bertolak ke Islamic Center Thailand untuk mengikuti acara maleman. Di masjid terbesar se-Thailand tersebut, jamaah diajak tilawah al-Quran, dibangunkan untuk sahalat tahajud, sahur bareng, ditutup dengan agenda shalat Subuh berjamaah. Semua fasilitas dan konsumsi disediakan gratis. Di masjid Islamic Center ini juga ada bazaar ketika tiga hari mendekati hari raya idul fitri. Diisi dengan kegiatan charity dan tersedia banyak stan yang menjual segala macam kebutuhan umat muslim.

Ramadhan Sekarang Berbeda

Ramadhan tahun ini saya merasa sedih karena tidak bisa mengulang kisah yang sama. Tahun ini akan menjadi catatan puasa ‘tersuram’ dalam sejarah hidup saya. Mungkin bagi semua komunitas muslim di dunia juga. Semenjak adanya pandemi virus corona, pengelola masjid dan tempat peribadatan lain di sini ditutup semua. Takmir menempel pengumuman tidak mengadakan kegiatan yang melibatkan banyak orang, termasuk sholat jamaah lima waktu, dan termasuk acara buka puasa bersama dan shalat tarawih selama bulan Ramadhan tahun 1441 H ini.

Kondisi seperti ini juga dialami di negara-negara mayoritas muslim di dunia. Baik itu Arab Saudi, Pakistan, India, Malaysia, dan juga di Indonesia. Menteri Agama RI tidak mengizinkan masjid menggelar shalat tarawih saat pandemi Covid-19 melalui peraturan resmi berupa Surat Edaran No 6 tahun 2020, yang mengimbau salah satunya agar shalat tarawih dan berbuka puasa bersama keluarga di rumah saja untuk menangkal rantai penyebaran virus corona. Larangan ini berlaku di Thailand sejak tanggal 22 Maret 2020 lalu.

Terlepas dari itu, ada sebuah perkiraan ulama ahli hadits Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani yang bersumber dari Kitab Badzlu al Maa’un Fii Fadhli al Thaaun Lil Hafidz, hlm 369. Dia pernah berkata mengenai kapan berakhirnya suatu wabah yang menimpa negeri. “Wabah yang terjadi di berbagai negeri kaum muslimin di sepanjang sejarah biasanya terjadi pada pertengahan musim bunga setelah keluar dari musim dingin dan akan berakhir pada awal musim panas.” Lantas yang di maksud musim panas itu kapan? Kalau saya mengecek situs BMKG awal dan puncak musim kemarau di wilayah Indonesia jatuh pada bulan Juni hingga Agustus 2020. Bagaimana dengan negara-negara yang lain, tentu saja berbeda. Wallahu a’lam

Allah SWT lah yang tahu kapan pandemi Covid-19 ini berakhir. Kita sebagai umat muslim, marilah senantiasa dan tetap berdoa serta tawakal kepada Allah SWT. Serta mengambil pelajaran atau hikmahnya. Di antaranya yang didapat bagi umat muslim adalah dapat menjalankan puasa dan mengisi malam-malamnya dengan amalan-amalan yang tidak kalah berarti dengan melaksanakannya di masjid, bahkan ada nilai tersendiri yaitu mengisi bulan Ramadhan dengan quality time bersama anggota keluarga. Dan yang tidak kalah penting lagi yaitu wabah virus corona melatih kesabaran diri dan membiasakan kita agar hidup sehat. Semoga meski adanya pageblug tidak mengurangi semangat kita dalam beribadah di bulan suci Ramadhan tahun ini. Allahumma aamiin.

Muhammad N. Hassan

Alumnus Pondok Pesantren Matholi’ul Anwar Lamongan.

Saat ini sedang melakukan riset di bidang Nanosains di Sensor Technology (SST) Laboratory, King Mongkut’s University of Technology Thonburi, Bangkok Thailand.

**Tulisan ini disadur dari Suluk.id dengan judul “Cerita Anak Rantau Asal Lamongan: Ramadan Tahun Lalu dan Sekarang di Thailand” melalui proses edit dan sedikit penambahan.


Santri Mengglobal

Bantu santri untuk bisa belajar di luar negeri

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *