Safari Ramadhan: Dari Amsterdam ke Barcelona (Catatan Menjadi Muslim Indonesia di Belanda part 11)

Sebagaimana sudah disebutkan di tulisan sebelumnya berjudul ‘Safari Ramadhan:  Dari Amsterdam ke Barcelona’, bahwa saat tulisan ini dibuat (tahun 2017), umat Islam di Spanyol mencapai kurang lebih 2 juta jiwa atau sekitar 4% dari dari sekitar 46 juta jumlah penduduknya. Dan, Barcelona adalah kota kedua dengan jumlah penduduk Muslim terbanyak di negara tersebut dengan sekitar 300.000 jiwa. Jumlah umat Islam disana banyak didominasi oleh Muslim pendatang dari Maroko, Pakistan, Bangladesh, juga Nigeria.

Namun, ada hal penting yang perlu dicatat bahwa data yang saya sebutkan diatas adalah berdasarkan kedatangan ‘muslim Kontemporer’ setelah perang dunia kedua, bukan dari sebelum-sebelumnya. Jika kita merujuk kepada www.barcelona.cat , kita akan dapati satu informasi bahwa kedatangan ‘muslim kontemporer’ secara besar-besaran di Barcelona terjadi di awal tahun 1960. Kala itu, Barcelona menjadi salah satu ‘magnet destinasi’ bagi sejumlah populasi migran (umat Islam) dari Afrika Utara. Tercatat ada sedikitnya 7.702 warga ‘Muslim’ Maroko dalam kurun tahun 1960-1965 yang datang ke Barcelona untuk bekerja di sejumlah sektor pariwisata, seperti hotel dan wisma. Kemudian disusul oleh sejumlah ‘pendatang Muslim’ dari berbagai negara lainya yang juga bertujuan untuk mencari kerja dan suaka, seperti Nigeria, Pakistan, dan lainya.

Yang menarik, di tahun 2009, jumlah komunitas Muslim terbanyak di Barcelona justru bukanlah orang Maroko yang merupakan ‘pendatang pertama’ ke Barcelona, melainkan adalah Muslim Pakistan (Pakistani). Sebagaimana data yang diungkap di laman https://www.bcn.cat/estadistica, bahwa pada tahun 2009, ada sekitar 17.735 orang Pakistan yang menetap di Barcelona dan bahkan mereka tercatat sebagai populasi imigran terbesar ketiga di Barcelona setelah Italia dan Ekuador. (Cek juga di https://more.bham.ac.uk/euro-islam/2010/02/27/islam-in-barcelona-spain/). Sehingga wajar saja, jikalau kita berkunjung ke Barcelona, corak tradisi Islam dan system pendidikan Islam di sejumlah masjid dan komunitas muslim di kota tersebut akan cenderung mengikuti tradisi yang banyak ditemui di Pakistan dan Maroko.

Jika kita flashback kepada sejarah penyebaran Islam di Spanyol di masa pemerintahan daulah bani Umayyah. Kota Barcelona yang terletak di propinsi Catalunya saat itupun pernah menjadi salah satu kota terpenting bagi pemerintahan Islam di tanah Andalusia. Kota/propinsi penting lainya di awal-awal masa pemerintahan daulah umayyah di Spanyol antara lain adalah Lucitania, Castille, dan Aragon.

Titik mula penyebaran Islam di Barcelona bisa dirunut dari sejarah ‘penaklukkan’ Islam atas wilayah kerajaan Visigoth pada awal abad ke-8. Visigioth kala itu adalah sebuah kerajaan yang menguasai sebagian wilayah selatan Spanyol atau sekitar wilayah barat daya negara Perancis saat ini. 

Sampai pada akhirnya, instabilitas politik terjadi di beberapa wilayah pemerintahan Islam (Daulah Umayah), termasuk di Barcelona saat itu. Kota yang merupakan ibukota propinsi Katalunya ini kerap kali ‘diserang’ untuk diambil alih kekuasanya oleh raja-raja Kristen di utara Spanyol. Perang untuk memperebutkan wilayah ‘primadona’ ini pun tidak sekali dua kali terjadi. Saya katakan Barcelona sebagai kota ‘primadona’ karena secara geografis,  Barcelona terletak di wilayah yang cukup strategis yaitu diapit dengan pegunungan yang hampir mengelilingi setengah kota yang memungkinkan kota ini dijadikan benteng pertahanan utama suatu kekuasaan, serta dekat dengan pelabuhan besar yang menjadikanya salah satu pusat perdagangan terbesar di mediterania kala itu.

Gambar 1: Tampak pemandangan pantai Barcelona (dok. pribadi)

‘Kaum Frank’ yang dikomandadi oleh Charlemagne di akhir abad ke- 8 pada akhirnya pun berhasil menduduki kota ini dan menjadikanya sebagai pos militer yang kuat untuk menyangga kekuatan Islam di utara dan Kerajaan frank di Selatan. Usaha ‘penaklukkan’ Barcelona oleh umat Islam ternyata belum juga surut. Pasukan Muslim Kembali datang ke Barcelona di tahun 985 di bawah komando al-Mansur bin Abi Amir, dan berhasil menaklukkan Barcelona. Namun, kekuasaan Islam di Barcelona setelah ini tidaklah lama karena bangsa Frank Kembali ‘sukses menaklukkan’ pemerintahan Islam dan berhasil merebut Kembali Barcelona. Informasi lengkap seputar penaklukkan Islam di Eropa dan Spanyol bisa juga dibaca di ‘masterpiece’ nya David Levering Lewis berjudul ‘God’s Crucible: Islam and the Making of Europe: 570-1215).

Islamophobia di Barcelona?

Desas-desus pandangan’Islamophobia’ pun masih sering terjadi di kota ini. Terlebih pasca tragedi WTC 9/11 di Amerika Serikat dan sejumlah aksi terror di banyak negara Eropa dalam kurun waktu terakhir (sekitar 2017). Sentimen ‘Islamophobia’ yang banyak didengungkan umumnya dibarengi dengan sentimeni anti-imigran muslim, selain tentunya anti-muslim dengan gembor-gembor keterlibatan ‘nyata’ sejumlah umat Islam dalam kekerasan yang secara otomatis berakibat pada kehidupan sehari-hari umat Islam lainya yang ‘tidak bersalah’, terutama bagi para wanita yang mengenakan jilbab, pria berjanggut atau berpeci dan berpakain khas muslim lainya. Bahkan ada juga sejumlah kalangan yang coba membuka memori lama tentang bagaimana ekspansi Islam ke Barcelona yang sempat membuat ‘trauma’ kalangan gereja dan umat beragama lainya.

Banyak upaya tentunya dilakukan sejumlah Muslim di Barcelona untuk mengikis Islamophobia disana. Mulai dari melakukan advokasi dan long-march untuk menyuarakan hidup damai antar-sesama manusia tanpa diskriminasi Ras dan agama, dialog keagamaan di beberapa komunitas, dan lainya. Akan panjang tentunya membicarakan ikhtiar mengikis Islamophobia di Barcelona. Namun, saya teringat apa yang dikatakan Abbas, seorang Muslim asal Maroko yang sata temui saat di Sagrada Familia. Ia katakan’Gereja Sagrada Familia yang dibangun di pusat kota Barcelona berdekatan dengan Catalan Islamic Cultural Centre ini tidak hanya menjadi magnet bagi jutaan turis mancanegara tiap tahunya, tetapi juga simbol toleransi beragama. Hal ini penegas bahwasanya umat beragama bisa hidup berdampingan side by side untuk mewujudkan nilai-nilai kebajikan yang diajarkan Tuhan tanpa harus terus menerus mencari pembenar dalam dogmanya untuk menjatuhkan ‘martabat beragama’ satu-sama lainya.

Gambar 2: Tampak salah satu contoh benteng pertahanan wilayah di Spanyol Selatan di masa lalu (dok.pribadi)

Terlepas dari itu semua, dari catatan singkat ini kita bisa memahami betapa ‘strategis’ kota Barcelona bagi tumbuh kembangnya Islam di negeri matador, tidak hanya di masa lalu, tetapi juga masa sekarang. Belum lagi karena posisi ‘Barcelona’ yang ‘cantik’ dan cukup strategis untuk perdagangan internasional karena memiliki Pelabuhan yang juga menjadi sentral perdagangan internasional. Sehingga wajar saja kalau seorang penulis kenamaan bernama Hans Christian Andersen pernah menyebut Barcelona sebagai ‘Paris dari Spanyol’ lantaran ‘cantik’ dan ‘romantis’ nya kota ini.


0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *