Sungguh kenikmatan yang luar biasa saat kita masih diberikan kesempatan oleh Allah swt untuk menjalani ibadah puasa di bulan ramadan, ini artinya Allah swt masih membuka peluang bagi kita untuk terus memperbaiki diri dan berusaha mempertahankan jati diri manusia sebagai makhluk-Nya yang mulia karena pada dasarnya semua manusia itu dimuliakan oleh Allah swt, sebagaimana firman-Nya

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِيْٓ اٰدَمَ وَحَمَلْنٰهُمْ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنٰهُمْ مِّنَ الطَّيِّبٰتِ وَفَضَّلْنٰهُمْ عَلٰى كَثِيْرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيْلً

Artinya: Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam, dan Kami angkut mereka di darat dan di laut, dan Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna. (QS Al-Isra: 70)

Kemuliaan yang Allah peruntukan untuk semua manusia ini antara lain berupa kesempurnaan bentuk tubuh, hati nurani, dan akal pikiran yang dengan semua itu manusia dapat berinovasi dan berkarya di alam dunia ini, sehingga dapat menghasilkan dan mengembangkan beragam lahan kehidupan dari mulai pertanian, perdagangan, perindustrian, dan lain sebaginya. Inilah kelebihan manusia di atas makhluk-makhluk-Nya yang lain.

Namun di atas kemuliaan itu, ada yang paling mulia di sisi Allah swt, yakni orang-orang yang bertakwa. Sebagaimana firman-Nya

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ

Artinya: “Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti”. (QS Al Hujurat: 13)

Ayat ini menjelaskan keragaman manusia dari sisi jenis, etnis, budaya, dan rasnya. Akan tetapi perbedaan-perbedaan itu tidaklah berarti di sisi-Nya, karena yang dijadikan patokan martabat manusia yang paling mulia di sisi-Nya hanyalah takwa, bukan harta dan tahta.

Jika demikian, lantas apa definisi takwa itu? Dalam banyak literatur, para ulama memberikan definisi

التَّقْوَى، عِبَارَةٌ عَنْ اِمْتِثَالِ أَوَامِرِ اللهِ تَعَالَى، وَاجْتِنَابُ نَوَاهِيْهِ

Artinya: Takwa adalah menjalankan perintah Allah swt dan menjauhi larangan-Nya

Jika mengacu pada definisi ini, berarti semua inovasi dan produktifitas manusia tersebut di atas harus bermuara pada ketakwaan yang prima, yakni dalam rangka menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, namun untuk sampai pada tingkat ketakwaan itu, manusia harus berhadapan dengan ragam godaan hawa nafsu yang dapat menjerumuskannya pada lembah kehinaan.

Nafsu yang kerapkali membuat manusia tidak “sadarkan diri” adalah nafsu perut dan nafsu di bawah perut, tak jarang permusuhan bahkan hingga pembunuhan pun terjadi disebabkan oleh keduanya. Kasus kriminal seperti perampokan, pencurian, korupsi itu semua disebabkan oleh nafsu perut, sementara kasus pembunuhan, aborsi, akibat “kecelakaan” sebelum menikah disebabkan oleh nafsu di bawah perut.

Ibadah puasa yang niatnya tulus hanya untuk mengharap ridha Allah,  akan dapat mengendalikan dua nafsu tersebut. Dengan demikian puasa dapat mengantarkan manusia kepada kemuliaan derajat dan martabatnya, hal ini antara lain yang dimaksud dengan takwa, yakni mampu membentengi manusia dari hawa nafsu. Semoga….


0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *