Oleh; Abid Khofif Amri Shidqi

Pendidikan pada dasarnya merupakan interaksi antara individu dengan kehidupan tanpa terbatas waktu dan ruang. Dalam arti yang lebih sempit, pendidikan adalah interaksi antara pendidik dan peserta didik di segala lingkungan. Namun, pendidikan sering diartikan sebagai proses formal yang dilakukan di lembaga pendidikan seperti sekolah. Sehingga, tidak heran jika banyak orang yang menyimpulkan “tak sekolah berarti tak berpendidikan”.

Dalam arti sempit ataupun luas pendidikan tertuju pada misi merubah tingkah laku manusia. Oleh sebab itu, jika kita mengartikan pendidikan hanya dalam arti sempit, maka seharusnya tidak ada yang salah dalam ungkapan “tak sekolah berarti tak berpendidikan”. Karena, proses pendidikan yang terjadi di sekolah ditujukan untuk menstimulus munculnya perubahan tingkah laku manusia melalui pengetahuan dalam berbagai mata pelajaran. Tapi, tingkah laku yang bagaimana dan pengetahuan yang seperti apa?

Di Indonesia, kita mengenal beberapa jenis lembaga pendidikan formal dengan fokus keilmuan yang berbeda, salah satunya pesantren. Kita dapat melihat pesantren atau lembaga pendidikan Islam lainnya dapat mencetak generasi dengan kompetensi keilmuan keagamaan yang lebih kompleks dibanding lembaga pendidikan umum. Kemudian, kita mengenal sekolah kejuruan yang memberikan porsi pendidikan keterampilan lebih banyak dibandingkan teori, dan lembaga pendidikan lainnya. Jadi dapat disimpulkan bahwa, pengetahuan dan perubahan tingkah laku yang akan terjadi dalam pendidikan di sekolah bergantung kepada latar keilmuan lembaga.

Pesantren menjadi satu-satunya lembaga pendidikan Islam di Indonesia yang bertahan dan tetap eksis hingga saat ini. Sebenarnya ada beberapa lembaga pendidikan Islam lainnya, seperti surau. Namun, seiring waktu berjalan, surau tidak lagi banyak diminati oleh masyarakat luas.

Bahkan, tidak hanya di Indonesia, pada tahun 1924 medrese (salah satu sistem lembaga pendidikan Islam di Turki) juga sudah mulai tergantikan oleh sistem sekolah umum. Begitulah, lembaga pendidikan Islam mulai tersingkirkan oleh berkembangnya sekolah umum.

Kita patut bersyukur karena pesantren sebagai salah satu pendidikan Islam di Indonesia masih dapat eksis hingga saat ini. Lalu, bagaimana bisa pesantren dapat tetap eksis ditengah meluasnya lembaga pendidikan umum?

Kali ini penulis menjadikan Pesantren Lirboyo sebagai salah satu contoh eksistensi pendidikan Islam di Indonesia. Penulis juga merujuk kepada buku Pembaruan Pendidikan di Pesantren Lirboyo karya Ali Anwar.

Pesantren Lirboyo dapat eksis dan berkembang dengan cukup pesat hingga saat ini. Hal ini terjadi karena Pesantren Lirboyo mampu melakukan integrasi antara pendidikan pesantren tradisional dengan sistem madrasah. Bahkan, Pesantren Lirboyo juga melakukan integrasi antara sistem pesantren tradisional dengan sistem pendidikan umum.

Sejak awal berdirinya pada tahun 1910, Pesantren Lirboyo menggunakan sistem tradisional. Santri hanya diajarkan keilmuan keagamaan dan kitab-kitab dengan harapan santri lulusan Pesantren Lirboyo akan memiliki moral yang baik. Hal ini ternyata relevan dengan kondisi lingkungan masyarakat sekitar yang memiliki moral rendah pada saat itu. Sehingga Pesantren Lirboyo didirikan dengan tujuan amar ma’ruf nahi munkar.

Pesantren Lirboyo sempat mengalami penurunan pada tahun 1916 bahkan sempat vakum selama dua tahun. Hal itu terjadi akibat kepercayaan masyarakat sekitar menurun kepada Pesantren Lirboyo. Masyarakat sekitar menilai bahwa sistem klasikal yang mulai diberlakukan Pesantren Lirboyo adalah sistem pendidikan yang digunakan oleh Kolonial Belanda. Namun, hal itu justru menjadi titik tolak kebangkitan Pesantren Lirboyo. Upaya persuasi terus dilakukan untuk meyakinkan masyarakat agar menerima inovasi sistem pendidikan di Pesantren Lirboyo.

Pada akhirnya, pada tahun 1920 Pesantren Lirboyo kembali menerima santri. Pada saat itu ada 300 santri Pesantren Lirboyo dan terus meningkat hingga tahun 1986. Pesantren Lirboyo berhasil mempertahankan eksistensinya dan mampu meyakinkan masyarakat sekitar. Bahkan, santri yang belajar di Pesantren Lirboyo ada yang berasal dari luar negeri.

Pada tahun 1986, Pesantren Lirboyo melakukan pembaruan sistem pendidikan dengan mengintegrasikan sistem pendidikan pesantren tradisional dengan sistem madrasah. Sehingga pada saat itu berdirilah Madrasah Diniyah MHM (Madrasah Hidayatul Mubtadi’in). Pada tahun yang sama berdiri juga MA dan MTs HM Tribakti yang menggunakan kurikulum Kementerian Agama RI.

Selain mengintegrasikan sistem pendidikan pesantren dengan madrasah, Pesantren Lirboyo juga mendirikan SD, SMP, SMA AR-Risalah sebagai bentuk integrasi dengan pendidikan umum. Dengan berdirinya beberapa lembaga, maka santri yang akan belajar di Pesantren Lirboyo memiiki tiga pilihan lembaga untuk menempuh studi. Tentunya dengan fokus yang masing-masing memiliki perbedaan porsi keilmuan.

Meskipun Pesantren Lirboyo dapat berkembang pesat dengan sistem pendidikan umum dan madrasah, identitas pendidikan islam serta coraknya tidak dapat dipisahkan. Adanya inovasi dan modernisasi tidak membuat Pesantren Lirboyo kehilangan jati diri. Bahkan, santri yang hanya mendalami kitab kuning di madrasah dinniyah tetap berjumlah banyak.

Keberhasilan Pesantren Lirboyo juga berkaitan dengan kondisi demografi masyarakat Jawa yang kental dengan budaya dan identitasnya. Sehingga apapun bentuk inovasi yang dilakukan, identitas akan tetap terjaga.

Begitulah eksistensi Pesantren Lirboyo dalam dunia pendidikan Islam di Indonesia. Semakin berjalannya waktu, semakin banyak lembaga pendidikan Islam yang berkembang dengan mengatasnamakan pesantren. Bahkan saat ini juga banyak pesantren yang menonjolkan satu fokus tertentu seperti tahfidz, kemampuan bahasa, kemampuan keterampilan, dan masih banyak lagi.

Akses lulusan pesantren untuk melanjutkan studi lanjut juga sudah mendapatkan perhatian dari pemerintah. Dibuktikan dengan adanya program beasiswa santri berprestasi (PBSB) oleh Kemenag RI dan beberapa program beasiswa lainnya.

Pendidikan Islam amat penting untuk diperhatikan dan diberikan inovasi guna terus meningkatkan kualitas dan kompetensi lulusan. Bukan hanya mampu mencetak kyai dan ustadz, namun pesantren harus mampu mencetak ilmuwan hebat sehingga Islam mampu berjaya dengan menguasai berbagai bidang.

Sudah saatnya santri naik ke permukaan peradaban dan menebarkan pesan-pesan positif tanpa saling membenci. Semoga pendidikan Islam di Indonesia senantiasa mampu mempertahankan eksistensinya.

Saatnya Santri Mengglobal!

Bekasi, 8 Juni 2020


0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *