Memasuki tahun ajaran baru, berbagai lembaga pendidikan, mulai membuka pendaftaran untuk siswa dan mahasiswa barunya, dari perguruan tinggi, sekolah, pondok pesantren hingga taman kanak-kanak. Tak sedikit orangtua yang telah mempersiapkan dari jauh-jauh hari, bahkan rela mengorbankan harta dan nyawanya demi masa depan si buah hatinya.

Pendidikan bertujuan membentuk sikap dan perilaku menuju manusia yang beradab, dengan pendidikan juga manusia dapat memiliki masa depan yang cerah dan bisa lebih banyak memberi manfaat bagi yang lain, bahkan dapat dikatakan bahwa maju-mudurnya suatu bangsa tergantung pada kualitas pendidikannya. Tak heran Jika Waren Buffet mengatakan; investasi terbaik adalah pendidikan dan pengalaman.

Saat ini, kita begitu mudah mengakses aneka ilmu pengetahuan, baik secara langsung maupun secara virtual, pemerintah juga terus mendukung untuk pengembangan ilmu dan pendidikan dengan memberikan ragam fasilitas, mulai dari penyediaan beasiswa, bantuan, bantuan dana operasional sekolah dan lain sebagainya.

Kendati demikian, tidak semua orang menyadari akan pentingnya investasi terbaik ini, tak sedikit juga yang menjadikan pendidikan formal hanya untuk mendapatkan ijazah saja sebagai salah satu syarat kerja, hal ini akan berdampak pada bobot keilmuan dan kualitasnya. Dalam hal ini, Nabi SAW pernah memberikan gambaran tentang keberhasilan seseorang dalam menuntut ilmu:

مَثَلُ مَا بَعَثَنِي الله بِهِ مِنَ الهُدَى وَالعِلْمِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أصَابَ أرْضاً فَكَانَتْ مِنْهَا طَائِفَةٌ طَيِّبةٌ قَبِلَتِ المَاءَ فَأَنْبَتَتِ الكَلأَ، وَالعُشْبَ الكَثِيرَ، وَكَانَ مِنْهَا أجَادِبُ أمْسَكَتِ المَاءَ، فَنَفَعَ اللهُ بِهَا النَّاسَ، فَشَرِبُوا مِنْهَا وَسَقَوْا وَزَرَعُوا، وَأَصَابَ طَائِفَةً مِنْهَا أُخْرَى إنَّمَا هِيَ قِيعَانٌ؛ لا تُمْسِكُ مَاءً وَلاَ تُنْبِتُ كلأً، فَذلِكَ مَثَلُ مَنْ فَقُهَ في دِينِ اللهِ، وَنَفَعَهُ مَا بَعَثَنِي اللهُ بِهِ، فَعَلِمَ وَعَلَّمَ، وَمَثَلُ مَنْ لَمْ يَرْفَعْ بِذلِكَ رَأسَاً، وَلَمْ يَقْبَلْ هُدَى اللهِ الَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ

Artinya: “Perumpamaan agama yang aku diutus oleh Allah SWT dengannya, yakni berupa petunjuk dan ilmu, bagaikan hujan yang turun ke bumi. Diantaranya ada yang turun dan ke tanah subur yang dapat menyerap air kemudian tumbuh padang rumput yang subur. Ada juga air hujan yang turun ke bumi dan jatuh ke tanah keras sehingga ia tergenang, lalu air itu dimanfaatkan oleh banyak orang untuk minum, menyiram kebun, dan berternak. Dan ada juga air hujan yang turun ke tanah tandus, tidak menggenangkan air dan tidak pula menumbuhkan tumbuh-tumbuhan. Seperti itulah orang yang mempelajari agama Allah dan mengambil manfaat dari padanya, belajar dan mengajarkan dan perumpamaan orang yang tidak mau tahu dan tidak menerima petunjuk Allah yang dengannya aku diutus” HR Muslim

Dari hadis ini kita dapat memahami gambaran keberhasilan penuntut ilmu, ada yang Allah SWT kehendaki bermanfaat bagi orang banyak, ada juga yang tidak dapat memberi manfaat. Ilmu dan petunjuk (hidayah) yang disebutkan oleh Nabi SAW dalam hadis ini bisa dipahami sebagai buah pembelajaran. Jadi ukuran keberhasilan dalam belajar adalah sejauh mana seseorang bermanfaat dengan ilmu yang dipelajarinya. Wallahu’alam

Categories: Wawasan Kesantrian

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *