Catatan Menjadi Muslim Indonesia di Belanda (Part 15)

Bagi masyarakat Belanda, nama Annelies Marie Frank atau yang lebih akrab dengan panggilan Anne Frank tidaklah asing di telinga. Sosok Anne Frank terekam dalam catatan yang menyejarah di negeri kincir angin tidak hanya karena ‘tempat tinggalnya’ yang dijadikan sebagai salah satu museum ‘sejarah’ di Belanda, tetapi juga karena tulisan catatan harianya yang masih banyak dibincang masyarakat dunia.

Anne Frank adalah seorang gadis keturuan Yahudi-Jerman yang lahir pada 12 Juni 1929. Kuatnya tekanan dan dominasi Nazi terhadap kaum yahudi di Jerman di awal tahun 1940-an memaksa keluarga Frank untuk hijrah ke Belanda untuk bersembunyi. Anne Frank dan keluarganya pun memutuskan bersembunyi di salah satu ruangan rahasia yang konon adalah sebuah gedung perusahaan ayahnya di wilayah Amsterdam. Tempat yang kini menjadi bagian dari wilayah museum ‘Anne Frank House’ ini terletak di Westermarkt 20, 1016 GV Amsterdam the Netherlands.

Catatan diari Anne Frank bermula saat ayahnya menghadiahinya sebuah buku diari di hari ulang tahunya yang ke-13. Kegemaranya dalam dunia tulis menulis inilah yang mendorongnya untuk mengisahkan secara detail pengalaman pribadi, perasaan, gagasan juga rahasia hidupnya.  Sebenarnya, tradisi menulis catatan harian seperti ini adalah lumrah dilakukan masyarakat Belanda. Kita tidak perlu kaget jikalau bertemu dengan orang Belanda dan mereka akan masih ‘akrab’ dengan buku catatan pribadinya. Selain mencatat janji (appointment) di buku kalender harian tersebut, umumnya mereka juga akan mencatat beberapa peristiwa dan persoalan penting yang ditemui di tiap harinya.

Ada yang berbeda dari catatan Anne Frank ini. Dalam buku ‘diari’ pribadi nya ia banyak mengisahkan potret kehidupan sehari-hari dalam ‘tekanan’ pendudukan Nazi. Ia mengisahkan bagaimana pilunya mendekam dan bersembunyi bersama keluarganya untuk menghindari penyiksaan langsung dari tentara Nazi semasa pendudukan Nazi di Belanda pada rentang waktu perang dunia kedua, juga bagaimana perlakuan kejam tentara Nazi pada umat umat Yahudi pada tragedi Holocaust. Rentetan catatan peristiwa demi peristiwa ‘pilu’ dalam hidupnya mulai dari 12 Juni 1942 hingga 1 Agustus 1944 terangkum rapi hingga saat ini dan masih saja diminati beberapa produsen film dan sutradara teater untuk mengangkat kisahnya untuk ditayangkan dalam sebuah pertunjukan layar lebar.

Diantara tulisan dalam buku diari-nya yang saya rasa paling berkesan dan menyayat hati adalah catatan pribadinya tentang bagaimana menyeramkanya kondisi perang yang pernah ia alami, kira kira seperti ini dalam bahasa Indonesia ‘Semua orang takut. Malam ini ratusan pesawat terbang melintasi Belanda menuju kota-kota di Jerman, menjatuhkan bom di tanah Jerman. Tiap jam ratusan bahkan ribuan orang terbunuh’. Ungkapan ini sekaligus menjadi refleksi bagi kita bersama betapa hidup dalam kondisi perang sama saja hidup dalam ketidakpastian. Tidak ada jaminan keamanan dan kenyamanan. Mati seperti barang murah yang bisa dibeli dan datang kapan saja. Karenanya, tidak adanya perang dan konflik berkepanjangan akan selalu menjadi hajat hidup orang banyak di dunia.

Anne Frank juga mengungkapkan harapanya akan kehidupan yang damai di masa depan ‘Aku merasakan bahwa semuanya akan berubah menjadi lebih baik, dan perang ini akan berakhir, aku juga berpikir, perdamaian dan ketenangan sekali lagi akan kembali. Pada suatu saat aku harus berpegang pada idealismeku. Barangkali waktunya akan tiba, saat aku mampu mewujudkanya.’ ungkapan ini mempunyai makna pesan mendalam dan masih sangat relevan untuk kita yang hidup saat ini. Betapa ‘hidup damai’ adalah suatu hal yang harus terus kita perjuangkan dengan sungguh-sungguh. Hidup damai tanpa kekerasan dan penindasan, hidup damai tanpa adanya gap yang membanding-bandingkan strata kehidupan.

Tidak hanya tentang Holocaust dan Nazi, Frank pun sekali dua kali mencatatkan kisah hidup lainnya dalam buku catatan harianya tersebut. Seperti persoalan ‘asmara’ yang kerap dirasakan para remaja seusianya, hingga masalah pribadi dengan kakak dan ibu-nya. Juga, ada pesan indah darinya yang ‘mendamaikan’ dan mengajarkan kita untuk selalu berprasangka baik (husnudzon) pada siapapun ‘In spite of everything, I still believe that people are really good at heart’. Terlepas dari segala sesuatunya, saya yakin bahwa (setiap) orang pada dasarnya ‘memiliki’ hati yang baik.

Saya melihat, apa yang dilakukan oleh Anne frank ini juga sejalan dengan pernyataan yang diungkapan Pramoedya Ananta toer, ‘Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.’ Ini juga sekaligus membenarkan pendapat psikolog yang menyatakan bahwa menulis catatan harian adalah salah satu cara ampuh meringankan beban pikiran dan depresi.


0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *