Jika doa adalah permintaan dan permohonan dalam antara hamba kepada PenciptaNya. Maka, puisi yang mengandung pinta dan mohon tentu merupakan cara mesra yang dapat kita lakukan sebagai hamba. Puisi yang sementara dipahami oleh sebagian kita, terdefinisi sebagai penataan kata untuk mendapatkan kesan mendalam pada sebuah topik pilihan. Puisi hanya dibacakan di pentas panggung, tercantum di buku pelajaran bahasa Indonesia, atau di tumpukan dalam buku puisi.

Hanya sebagian dari kita, yang menjadikan puisi sebuah media merayu Sang Kuasa dalam segala hal dibalik tangis sesudah sujud lama. Puisi yang dibacakan di hadapan Rabb, tentu akan berbeda rasanya ketika dibacakan di muka banyak orang. Puisi yang mengandung makna dalam dan pemilihan kata yang hati-hati, tentu akan bernyawa ketika dihadapkan pada rasa menggebu dan ingin bertemu setelah sujud sehabis Salat.

Puisi tentu berbeda dengan kalimat-kalimat panjang yang tidak ditata dengan seksama. Pemilihan kata yang digunakan dalam memanjatkan doa tentu akan berbeda, dengan puisi yang diperuntukkan di muka orang ketika pentas misalnya. Lalu, bagaimana agar puisi kita pantas dipanjatkan di hadapan Tuhan yang Maha?

Tentu, sebelum mencoba menulis sendiri puisi terbaik yang akan dipersembahkan sangat baik jika dimulai dengan membaca referensi puisi-puisi milik penyair ternama. Salah satu contohnya adalah puisi milik Taufiq Ismail yang berjudul ‘Doa’

Tuhan kami

Telah nista kami dalam dosa bersama

Bertahun-tahun membangun kultus ini

Dalam pikiran yang ganda

Dan menutupi hati nurani

Ampunilah kami

Ampunilah

Amin

Tuhan kami

Telah terlalu mudah kami

Mengagungkan AsmaMu

Bertahun di negeri ini

Semoga Kau rela menerima kembali

Kami dalam barisanMu

Ampunilah kami

Ampunilah

Amin

Setiap dari kita, tentu berbeda dalam mengekspresikan keinginan terutama ketika berdoa. Terlebih setiap kita punya kebutuhan dan harapan yang hampir tak ada yang sama. Maka, membuat puisi melalui pengalaman dan emosi diri menjadi penting karena semuanya tercipta dari rasa pribadi paling dalam. Puisi-puisi penyair ternama seperti di atas, dapat menjadi salah satu referensi untuk ikhtiar menghadirkan puisi terbaik kepada Pencipta. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an surat al-Baqarah (2): 186

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِى عَنِّى فَإِنِّى قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ ٱلدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا۟ لِى وَلْيُؤْمِنُوا۟ بِى لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

Artinya: Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepadaKu. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)Ku daan beriman kepadaKu agar mereka memperoleh kebenaran. Ayat di atas tentu memacu kita untuk senantiasa memohon dan menggantungkan harap kepada Allah. Dan salah satu cara mesra dalam bercengkrama denganNya melalui doa adalah dengan puisi. Maka mengaji puisi lewat emosi dan pengalaman pribadi yang dituangkan dalam kata-kata sedemikian rupa, bisa jadi merupakan cara kita untuk melangitkan harap kita. Sudahkah kamu bermesra dengan Tuhanmu lewat puisi, hari ini?


0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *