Oleh Rico Andrian M.*

Kajian Manuskrip: Dari “ayo jangan lalai” jadi “ayo mikir

Oleh Rico Andrian M.*

Tentang Fisik Naskah Kitab al-Akhlaq

Pada kesempatan ini, penulis akan mengkaji sebuah manuskrip berbahasa Arab yang penulis temukan dari situs daring Hmmlcloud.org koleksi La Ode Zaenu dari kota Baubau, Sulawesi Tenggara yang berjudul Kitab al-Akhlaq. Pengarang naskah ini belum diketahui dikarenakan hilangnya beberapa lembaran naskah. Setelah diteliti, ternyata naskah ini ditulis pada abad 19 masehi dengan menggunakan kertas Eropa, yang mana dapat diidentifikasi dari ciri khasnya yaitu watermark, namun karena usianya yg sudah sangat tua watermark menjadi kurang terlihat jelas.

Naskah dengan nomor DS 0010 00123 ini berjumlah 28 halaman dengan gaya penulisan dari kanan ke kiri menggunakan Khat Naskhi bertinta hitam dan beberapa kata dengan tinta merah. Naskah ini tidak memiliki sampul buku dan countermark. Tidak ditemukan juga nomor halaman, iluminasi dan rubrikasi. Setelah diukur, kertas naskah ini berdimensi 22,5×16,7cm dan blok teks berdimensi 16×12,2 cm.

Secara singkat, naskah ini berhubungan dengan etika Islam, termasuk di dalamnya dicantumkan seputar pengetahuan dan kebodohan, peringatan dan pengawasan serta tips bagaimana memurnikan hati. Nakah ini juga berisi kompilasi hadits Nabi Muhammad menyoal perilaku etis dan pelaksanaan ibadah.

Filologi dan Kodikologi

Sebuah bukti otentik yang menyingkap tabir akan keilmuan dan budaya menulis yang dimiliki manusia di bumi sejak berabad-abad silam adalah penemuan manuskrip kuno. Ratusan ribu bahkan jutaan manuskrip kuno dapat ditemukan di segala penjuru dunia dengan beragam jenisnya. Tentunya apa yang dituliskan oleh cendikiawan terdahulu mengandung pesan, ilmu dan pengetahuan yang dapat melahirkan banyak manfaat bagi manusia masa kini dan masa depan.

Tidak semua orang mampu membaca dan memahami teks dalam naskah manuskrip kuno dikarenakan adanya jarak yang jauh antara waktu penulisan naskah dengan zaman sekarang sehingga perlu diteliti dan dicermati teks dan konteks naskah tersebut. Pintu permasalahan ini dibuka oleh Filologi. Sebuah ilmu yang mempelajari naskah-naskah manuskrip kuno terkait sejarah, bahasa, tulisan, konteks penulisan, dan menyunting naskah tersebut agar dapat dinikmati oleh manusia zaman sekarang. Begitulah tugas seorang Filolog, sebutan untuk ahli filologi, yaitu menjembatani masa lalu dan masa kini, menghadirkan yang kuno menjadi kekinian.

Filologi biasanya berdampingan dengan kodikologi. Kodikologi adalah ilmu bantu filologi yang bertugas meneliti segala aspek pernaskahan di luar isi kandungan naskah seperti sejarah naskah, tempat penulisan naskah, kertas yang digunakan serta ukurannya, penyusunan katalog dan lain lain. Jelasnya seperti deskripsi fisik naskah diatas, itulah contoh kecil produk kodikologi.

Tafakkur (Mikir) Obat Lalai

Dalam KBBI lalai berarti kurang hati-hati, tidak mengindahkan dan lupa karena asyik dengan sesuatu yang lain. Kelalaian merupakan hal yang tak luput dari manusia. Bukan berarti lalai tak bisa dihentikan, tetapi kebanyakan manusia pada dasarnya sudah jatuh terlalu dalam ke lubang kelalaian sehingga untuk menghentikan kelalaian saja dia lalai. Peringatan sederhana seperti “Ayo jangan lalai” dewasa ini akan dihiraukan bahkan anda bisa disemprot balik “Urus saja masalahmu sendiri, jangan urus masalah orang lain!” padahal niatnya supaya dia lebih baik.

Lalai merupakan sesuatu yang paling banyak mengecohkan manusia dalam kesehariannya. Yang menjadi masalah apabila tidak ada peringatan bahwa lalai adalah sebuah perilaku yang tidak baik. Khawatir semakin lama dibiarkan lalai manusia akan menganggapnya sebagai hal yang sah sah saja dan dilakukan terus menerus, bisa gawat urusannya kalau rakyat Indonesia lalai semua.

“Manusia adalah tempatnya salah dan lupa”. Pepatah ini seringkali dijadikan sebagai pembenaran ketika terjadi kelalaian. Padahal pepatah ini tidak bermaksud demikian, bukan berarti manusia dibiarkan untuk selalu berbuat salah dan dosa, akan tetapi kesalahan pada diri manusia harus ditebus dengan taubat, penyesalan dan penghentian. Seringkali orang yang mengingatkan dari kelalaian mendapatkan respons yang kurang baik salah satunya seperti kasus diatas, yang diingatkan malah lebih galak. Inilah salah satu dampak dari lalai yaitu kesombongan. Dalam naskah dikatakan:

فاحذر منها لأنه يتولد من الغفلة ثمانية حب العزة…

“Berhati-hatilah dari kelalaian karena dapat memicu delapan perkara; (salah satunya) cinta kesombongan…”

            Kelalaian adalah hal sepele yang berdampak besar kepada sikap manusia. Kitab al-akhlaq memperingatkan dampak jangka panjang dari sifat lalai:

فمن كثر غفلته كثر خرصه ومن كثر حرصه كثر ضلالته ومن كثر ضلالته مات قلبه ومن مات قلبه لا يأخذ الا الشر

“Siapa yang banyak lalainya, maka banyak maunya, siapa yang banyak maunya, maka banyak sesatnya, siapa yg banyak sesatnya, maka mati hatinya, siapa yg mati hatinya, tidak mendapatkan apapun kecuali keburukan.”

“Siapa yang banyak lalainya, maka banyak maunya.” Dapat kita amati pola hidup pribadi kita khususnya dan masyarakat pada umumnya yang kian hari makin larut dalam nafsu. Banyak orang yang rela pinjam uang sana-sini untuk memenuhi kemauan yang sebenarnya tidak terlalu dia butuhkan untuk terlihat “kaya” di mata orang. Hal ini disinyalir oleh Kitab al-Akhlaq sebagai produk kelalaian, dia tidak hati-hati memperhitungkan skala prioritas finansialnya maka ia terjerumus dalam nafsu.

Kemudian keinginannya untuk terlihat “kaya” di mata orang/pamer harta adalah dampak lanjutan dari kelalaian. Setelah tidak berhati-hati memperhitungkan kebutuhan finansialnya lalu dia membeli sesuatu yang tidak dibutuhkan, sekarang dia berada dalam titik “banyak sesatnya” yaitu memamerkan harta yang sebenarnya adalah hasil pinjaman. Jika dia tidak segera menghentkan lalainya maka dia akan jatuh lebih dalam dan hanyalah keburukan yang dia dapatkan.

Jelaslah orang yang sudah seperti ini sulit mengingatkannya. Jika kita mengingatkannya dari kelalaian, dia akan merespons dengan dengan sombong karena telah mati hatinya. Kitab al-Akhlaq secara implisit memberikan sebuah solusi untuk masalah ini, yaitu dengan tafakkur (mikir). Tafakkur bermakna berpikir atau merenung. Simple-nya dari sekarang mulai ubah pola mengingatkan dari kelalaian menjadi ajakan untuk berpikir, dari “ayo jangan lalai” jadi “ayo mikir”.

فاعلم أنه يتولد من التفكر تسعة الخوف والتوبة والقيام والعبادة والقناعة والسجادة والأدب والتواضع والعزلة

“Tafakkur melahirkan sembilan perkara; takut, taubat, pendirian, pengabdian, kesederhanaan, ketundukan, etika, rendah diri dan keleluasaan diri.”

Daripada diperingatkan orang lebih senang diajak. Dengan ajakan bertafakkur niscaya akan mendatangkan kesadaran untuk taubat dari lalainya dan memulai hidup dalam kesederhanaan. Sesuai dengan yang disampaikan sebelumnya bahwa pepatah “manusia adalah tempatnya salah dan lupa” bermaksud bahwa kesalahan pada diri manusia harus ditebus dengan taubat, penyesalan dan penghentian dapat terselesaikan dengan mikir (tafakkur). Ayo perbanyak tafakkur!

*Mahasiswa jurusan Bahasa dan Sastra Arab UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.


Santri Mengglobal

Bantu santri untuk bisa belajar di luar negeri

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *