Oleh Inggil Darajat*

Tradisi Salin Menyalin

Pada abad ke-19 sebelum tradisi cetak muncul, para penulis menulis naskah menggunakan tinta yang berasal dari alam, kemudian mereka menuliskannya di atas pelepah pohon, daun, maupun kulit binatang buruan dalam jangka waktu yang lama. Berbeda dengan masa sekarang, para penulis tinggal mengetik, lalu dicetak menggunakan printer dalam waktu yang tidak lama. Kemudian dari satu karya penulis dapat digandakan melalui gerakan menyalin naskah yang disalin dari beberapa orang. Ada juga yang menerjemahkannya dalam bahasa yang lain untuk dapat dipahami oleh masyarakat itu tersendiri.

Tradisi salin menyalin naskah ini berlangsung selama bergulirnya masa saat itu. Sampai detik ini kita masih menemukan manuskrip-manuskrip kuno yang tersimpan di Perpustakaan Nasional, museum nasional, ataupun tempat kebudayaan daerah. Tak jarang juga masyarakat lokal pun masih menyimpan manuskrip yang dialokasikan turun-menurun kepada pejabat setempat maupun keluarga. Sebab, manuskrip tersebut adalah sejarah bagi kalangan suatu suku, ras maupun golongan kebangsaan.

Filologi dan Kodikologi

Untuk memahami teks yang termuat dalam manuskrip diperlukan penguasaan filologi dan kodikologi. Mengenai artikel ini, Muhammad Nida Fadlan sebagai guru besar filologi UIN Jakarta mengatakan bahwa filologi adalah ilmu yang mempelajari tentang teks, yaitu ilmu yang khusus menangani teks naskah. Sementara kodikologi adalah ilmu yang khusus menangani masalah fisik naskah yang meliputi bahan, umur, dan penulisan naskah, terutama pada sejarah manuskrip.

Dalam hal lain, Oman Fathurahman ahli filologi Islam Nusantara mengatakan filologi dan kodikologi adalah “pisau” untuk memahami sebuah manuskrip kuno. Tetapi pada kenyataannya, masih sedikit kebermunculan filolog dalam dunia naskah kuno. Jika filolog masih sedikit, lantas bagaimana kita akan bisa memahami kebudayaan Nusantara yang ada pada zaman dahulu?

Hadits ‘Arbain yang disusun oleh Imam Nawawi

Beberapa waktu yang lalu saya sempat membaca sebagian manuskrip di situs daring  www.lektur.kemenag.go.id naskah kuno yang berisi 42 hadits mengenai pokok-pokok keislaman. Sebagian dari hadits itu, terdapat pembahasan yang mengenai tentang sedekah (الصدقة). Teks ini merupakan karangan Imam Nawawi yang sangat populer di dunia Islam.

Al-Arba’in al-Nawawiyah merupakan koleksi dari Imam Nawawi. Naskah ini ditulis dengan gaya tulisan naskhi, menggunakan tinta hitam dan merah yang ditulis di atas kertas eropa dan menggunakan bahasa Arab. Naskah ini berisi 24 halaman 15 baris dalam setiap halamannya, akan tetapi tidak memiliki nomor halaman. Naskah ini merupakan naskah hadits yang membahas tentang amalan-amalan baik yang diajarkan oleh Rasulullah SAW.

10 Amalan Sedekah yang Tidak Harus dengan Harta

Mungkin beberapa orang banyak yang belum tahu bahwa sedekah tidak hanya bisa dilakukan oleh orang kaya, tetapi orang miskin pun bisa bersedekah. Kita bisa bersedekah dengan cara lain tanpa harus mengeluarkan uang sepeser pun. Banyak dari kalangan manusia yang mengeluh karena dirinya tidak mempunyai uang maupun harta untuk bersedekah, padahal ada amalan-amalan berpahala lain yang setara pahalanya dengan bersedekah tanpa harus mengeluarkan harta.

Naskah yang diberi kode LKK_SUMBAR2014_BATUAMPA 005 yang terdapat pada situs www.lektur.kemenag.go.id ini berisi 42 hadits yang membahas tentang amalan-amalan baik. Sebagian dari itu, yang akan penulis bahas adalah hadits dengan nomor 25 dan 26. Berikut hadits no 25 beserta isi teks naskah:

عن أبي ذر رضي الله عنه أيضا «أن ناسا من أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم قالوا للنبي صلى الله عليه وسلم: يا رسول الله ذهب أهل الدثور بالأجور، يصلون كما نصلي، ويصومون كما نصوم، ويتصدقون بفضول أموالهم، قال: أوليس قد جعل الله لكم ما تصدقون؟ إن بكل تسبيحة صدقة، وكل تكبيرة صدقة، وكل تحميدة صدقة، وكل تهليلة صدقة، وأمر بالمعروف صدقة، ونهي عن منكر صدقة، وفي بضع أحدكم صدقة قالوا: يا رسول الله أيأتي أحدنا شهوته ويكون له فيها أجر؟ قال: أرأيتم لو وضعها في حرام، أكان عليه وزر؟ فكذلك إذا وضعها في الحلال كان له أجر»

Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, “Sesungguhnya sejumlah orang dari sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Wahai Rasulullah, orang-orang kaya telah pergi dengan membawa pahala-pahala mereka. Mereka shalat sebagaimana kami shalat, mereka berpuasa sebagaimana kami juga berpuasa dan mereka bersedekah dengan kelebihan harta mereka (sedangkan kami tidak bisa bersedekah).” Beliau bersabda: “Bukankah Allah telah menjadikan untuk kalian sesuatu agar kalian bisa bersedekah dengannya? Sesungguhnya setiap tasbih itu adalah sedekah, dan setiap takbir itu adalah sedekah, dan setiap tahmid itu adalah sedekah, dan setiap tahlil itu adalah sedekah, memerintahkan kepada hal yang ma’urf itu adalah sedekah, mencegah dari hal yang mungkar itu adalah sedekah, dan dalam kemaluan kalian itu juga terdapat sedekah. Mereka berkata: “Wahai Rasulullah, apakah salah seorang dari kami jika menyalurkan syahwatnya (dengan benar) dia akan mendapatkan pahala?” Beliau bersabda: “Bagaimana pendapat kalian jika hal tersebut disalurkan pada jalan yang haram, bukankah dia berdosa? Demikiannya hal tersebut jika diletakkan pada jalan yang halal tentu ia mendapatkan pahala.”

Selain amalan di atas, Imam Nawawi meneruskan tulisannya dengan nomor hadits 26 yang berisi:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: كُلُّ سُلاَمَى مِنَ النَّاسِ عَلَيْهِ صَدَقَةٌ كُلُّ يَومٍ تَطْلُعُ فِيْهِ الشَّمْسُ تَعْدِلُ بَيْنَ اثْنَيْنِ صَدَقَةٌ، وَتُعِيْنُ الرَّجُلَ فِي دَابَّتِهِ فَتَحْمِلُه عَلَيْهَا أَوْ تَرْفَعُ لَهُ عَلَيْهَا مَتَاعَهُ صَدَقَةٌ، وَالْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ، وَبِكُلِّ خُطْوَةٍ تَمْشِيْهَا إِلَى الصَّلاةِ صَدَقَةٌ، وَتُمِيْطُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيْقِ صَدَقَةٌ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Setiap persendian (tubuh) dari manusia itu ada sedekahnya pada setiap hari yang matahari terbit padanya. Berbuat adil antara dua orang adalah sedekah, menolong seseorang dalam urusan kendaraannya membantunya agar bisa menaiki kendaraannya atau engkau angkatkan barang-barangnya ke atas kendaraannya itu juga sedekah. Sebuah ucapan yang baik adalah sedekah, setiap langkah yang kamu ayunkan menuju tempat shalat adalah sedekah dan engkau menyingkirkan gangguan dari jalan adalah sedekah”.

Berikut 10 amalan yang setara dengan pahala bersedekah:

  1. Berzikir dengan mengucap tasbih, tahmid, tahlil, dan takbir adalah sedekah.
  2. Berwasiat kepada diri sendiri dan orang lain supaya berbuat baik (amar ma’ruf) dan mencegah perbuatan keji (nahi munkar) juga merupakan amalan bersedekah.
  3. Menikah.
  4. Jima’ (Berhubungan dengan mahromnya).
  5. Setiap anggota tubuh manusia ada sedekahnya jika diamalkan kepada kebaikan
  6. Berlaku adil terhadap orang lain
  7. Menolong orang dalam urusan bertransportasi
  8. Mengucapkan kalimat yang baik
  9. Berjalan untuk melaksanakan sholat ke masjid
  10. Menyingkirkan hal yang membahayakan dari jalanan seperti duri, paku, beling, dsb.

*Mahasiswa UIN Jakarta Jurusan Bahasa dan Sastra Arab


Santri Mengglobal

Bantu santri untuk bisa belajar di luar negeri

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *