Oleh: Ust. Muhammad Hanifuddin, S.S.I., S.Sos.

Di kalangan pesantren, kitab “Ta’lim al-Muta’allim” karya Syaikh al-Zarnuji adalah referensi wajib. Selain menjadi buku ajar dasar di jenjang madrasah, kitab ini juga dikaji saat kilatan bulan Ramadhan. Karena itu, santri dapat mengkhatamkan minimal dua kali. Kitab ini merupakan panduan bagi seorang santri dalam mencari ilmu. Mulai dari penjelasan hakikat ilmu, hukum mencari ilmu, keutamaan ilmu, menata niat mencari ilmu, hingga panduan mendapatkan berkah ilmu dan mengamalkannya. Dalam tradisi keilmuan di perguruan tinggi, materi yang serupa juga wajib diambil oleh mahasiswa semester awal, yakni filsafat ilmu. Mata kuliah ini, memandu mahasiswa untuk memahami hakikat ilmu, baik dari segi ontologi, epistemologi, ataupun aksiologi.

Dalam konteks ulama Nusantara, tidak sedikit ulama yang juga memiliki karya yang se-genre dengan kitab “Ta’lim al-Muta’allim” di atas. Sebagai misal, Hadharatussyaikh Hasyim Asy’ari (1871-1947) memiliki karya yang berjudul “Adab al-Alim wa al-Muta’allim”. Kitab ini memberikan tambahan penting bagi kitab Ta’lim al-Muta’allim, yakni pemaparan adab, etika, dan kode etik seorang alim (ulama). Bahkan dari judul dan pemeparannya, adab seorang alim didahulukan sebelum menjelaskan adab seorang muta’allim (santri). Jadi tidak hanya seorang santri yang harus memperhatikan adab, tetapi pemilik ilmu (kiai/ustadz) juga wajib mengindahkan adab. Karena kiai/ustadz tidak lain adalah contoh dan penuntun santri.

Murid Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari juga melanjutkan tradisi menulis kitab di bidang ini. Salah satunya adalah Syaikh Maisur Sindi al-Tursidi (1925-1996), Pengasuh Pondok Pesantren Mahir Arriyadl Ringinagung Pare Kediri. Ulama pakar bidang Arudl ini menulis kitab “Tanbih al-Muta’allim”. Jika karya Imam al-Zarnuji dan Hadharatussyaikh Hasyim Asy’ari di atas disajikan dalam bentuk kalam natsar (tulisan yang tidak terikat wazan bait), maka karya Syaikh Maisur berupa kalam nadham (tulisan yang terikat wazan bait). Ketiganya adalah rujukan yang saling melengkapi bagi santri. Lantas dimana posisi kitab “Qimah al-Zaman” karya Syaikh Abd al-Fattah Abu Ghuddah di atas?

Secara garis besar, karya ini berisi paparan detail laku inspiratif ulama, khususnya dalam mengabdikan waktu dan usia untuk ilmu. Di bagian awal, akan disajikan sandaran ayat al-Qur’an dan hadis yang menjelaskan betapa pentingnya pemanfaatan waktu. Terlebih untuk mengkaji, mengembangkan, dan menuliskan ilmu. Hal inilah yang harus disadari masyarakat muslim, terlebih generasi mudanya. Setelah itu, disusul bagian berikutnya adalah kisah para sahabat dan tabi’in dalam memanfaatkan waktu. Di antaranya ialah Sayidina Ibnu Mas’ud (32 H), Sayidina Umar bin Abdul Aziz (61-101 H), dan Sayidina Hasan al-Bashri (21-110 H). Suatu ketika, Sayidina Hasan al-Bashri pernah bersaksi bahwa generasi sahabat adalah generasi yang sangat menghargai waktu. Bagi generasi ini, waktu lebih berharga daripada emas dan perak.

Lebih lanjut, kita akan mendapati kisah ulama ahli tafsir, ahli hadis, ahli fiqih, dan ahli tarikh dalam kehidupan sehari-harinya. Dari kisah ini, tidak aneh jika mereka mampu mengembangkan keilmuan Islam dan menghasilkan karya yang berjilid-jilid. Sebagai misal, Imam Abu Yusuf (113-182 H) dan Imam Muhammad bin al-Hasan (132-189 H), keduanya adalah murid Imam Abu Hanifah (80-150 H). Saking cintanya terhadap ilmu, di detik-detik terakhir tutup usia, meskipun sakit, beliau tetap mendaras ilmu fiqih. Hingga tak terasa beliau wafat di majlis ilmu. Demikian halnya dengan Imam Muhammad al-Hasan, beliau senantiasa membatasi tidur malam karena untuk mengkaji ilmu. Di sampingnya senantiasa terbuka banyak kitab dari beragam disiplin ilmu.

Selain kisah inspiratif nama-nama ulama di atas, kita masih akan mendapati banyak lagi. Imam al-Mundziri, Imam Ibnu Abi al-Dunya, Imam Ibnu Asakir, Imam Ibnu Syahin, Imam Ibnu Hazm, Imam al-Razi, Imam Hakim al-Naisaburi, Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari, Imam al-Thabari, Imam al-Nawawi, Imam Ibnu al-Nafis, Imam al-Suyuthi, Imam Syaukani, Imam al-Alusi, dan masih banyak lagi. Karena itu, kitab karya Syaikh Abd al-Fattah Abu Ghuddah ini penting didaras oleh para santri. Meluaskan pengetahuan yang sudah didapatkan dari ketiga kitab karya Imam al-Zarnuji, Hadharatussyaikh Hasyim Asy’ari, dan Syaikh Maisur Sindi di atas.

Lantas tertarikkah anda?


Santri Mengglobal

Bantu santri untuk bisa belajar di luar negeri

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *