Hati nurani sangat berperan penting dalam membentuk karakter manusia. Bila hatinya baik, maka kehidupannya juga akan turut baik dan terpuji. Sebaliknya, bila hatinya kotor, kehidupannya juga akan hancur dan tercerla. Hal ini sebagaimana sabda Nabi saw dalam salah satu hadisnya:

أَلَا وَإِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلُحَتْ صَلُحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ

Artinya: “Ketahuilah bahwa dalam jiwa (tubuh) itu ada segumpal daging, bila segumpal daging itu baik maka seluruh tubuhnya juga akan ikut baik, namun bila segumpal daging itu rusak, maka seluruh tubuhnya itu akan ikut rusak. Ketahuilah dia adalah kalbu” HR Muslim

Melalui hadis ini, sepatutnya kita berupaya menjaga kejernihan hati dan menghindari dari hal-hal yang dapat mengotorinya. Ada banyak faktor yang menyebabkan hati manusia menjadi kotor, sakit, bahkan hingga mati. Semuanya bermula dari tingkah laku manusia itu sendiri, antara lain dengan dosa-dosa yang menutupi hati nuraninya dari hidayah. Dalam hadis lain, Nabi saw menggambarkan hati dengan baju putih yang terkena noda;

إِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا أَذْنَبَ كَانَتْ نُكْتَةً سَوْدَاءُ فِى قَلْبِهِ فَإِنْ تَابَ وَنَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ، صَقُلَ قَلْبُهُ، فَإِنْ زَادَ زَادَتْ، فَذلِكَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَهُ اللهُ فىِ كِتَابِهِ. رواه ابن ماجه

Artinya: Sesungguhnya bila seorang mukmin berbuat dosa, akan ada noda hitam yang menempel di hatinya. Bila ia betaubat, berhenti dari perbuatan dosanya, dan beristigfar, hatinya mengkilap kembali. Bila bertambah dosanya, akan bertambah pula noda hitam itu. Demikian yang dinamai ran (dosa yang menutupi hati)yang Allah sebutkan dalam Al-Quran’an (surat Al-Muthafifin: 14). H.R Ibnu Majah

Dalam beberapa kitab syarah hadis diuraikan bahwa hati dimisalkan dengan pakaian putih, dan kemaksiatan dimisalkan dengan kotorannya. Semakin banyak kotoran itu mengenai pakaian putih, lama-kelamaan ia tidak putih lagi, kusam bahkan tidak layak pakai. Demikian pula dengan hati kita, bila kita sibuk dengan perbuatan dosa dan tidak segera bertaubat, niscaya akan menjadi kusam, tidak bercahaya, dan lama-kelmaan tidak berfungsi sebagai hati nurani yang bersih (qalbun salim)

Para ulama tasawuf khususnya, telah panjang lebar menyajikan uraian-uraian tentang penyakit hati, mereka juga berupaya mengingatkan kita tentang ciri-ciri kematian hati nurani kita, anatara lain sebagaimana disampaikan oleh Imam Ibnu Ataillah dalam hikamnya;

من علامات موت القلب عدم الحزن على ما فاتك من الموافقات، وترك الندم على ما فعلته من وجود الزلات

Artinya: “Di antara ciri hati yang mati, engkau tidak bersedih saat meninggalkan ibadah, dan tidak menyesal saat engkau berbuat dosa

Upaya menjaga kejernihan hati adalah dengan berusaha menghindari diri dari berbuat dosa dan terus memotivasi diri agar terus semangat melaksanakan ketaatan. Wallahu’alam


0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *