Hai namaku Ani, mahasiswa di salah satu universitas di Jogja. Aku berasal dari Lampung. Sejak kecil hidup di desa. Setelah lulus SD, aku sekolah di salah satu pesantren yang jaraknya satu jam dari rumahku. Aku mengenyam pendidikan di pesantren ini hingga SMA.

Sejak SMP aku ingin sekali bisa keluar negeri, apapun negaranya walaupun hanya ke Malaysia atau Singapura. Namun aku merasa impian ini hanya menjadi angan-angan. Karena yang aku tau imipian itu bisa terwujud karena ia bersekolah di intitusi yang berstandar internasional, sedangkan aku? Hanya seorang santri pesantren. Sebenarnya ada beberapa alumni pesantrenku yang bisa kuliah keluar negeri tapi mereka semua laki-laki.

Setelah lulus SMA aku merantau ke Jogja untuk kuliah. Orang tua membolehkanku merantau ke Jogja dengan syarat “nyantri” lagi. Syarat ini kutrima karena ini bukan tantangan yang berat. Di kampusku ternyata banyak mahasiswa yang mengikuti event internasional dengan berbagai bidang.

Tentunya impianku sejak SMP itu tumbuh lagi, meski bingung harus mengikuti event apa. Akhirnya aku membentuk tim terdiri dari tiga orang, yang mana tim tersebut ditugasi membuat jurnal untuk di kirimkan pada acara Konferensi Internasional.

Hal spesial pertama dalam hidupku, karena aku tidak pernah menulis. Meskipun menulis karangan cerita. Tentunya dengan bantuan pengalaman kakak tingkat dan koreksi dari dosen tim kami dapat menyelesaikan sebuah jurnal. Jurnal tersebut kami kirimkan padaacara Konferensi Internasional di berbagai negara.

Ketika pengumuman tiba jurnal kami lolos pada event di Turki. Senang bukan main, karena impianku sejak SMP akhirnya terwujud. Lalu tim kami membuat proposal kepada kampus untuk dana keberangkatan kami ke Turki. Semua berjalan lancar, namun halangan tiba ketika aku izin ke pesantren. Sepertinya aku santri pertama yang izin untuk mengikuti event keluar negeri. Jujur saja izin ini sulit kudapatkan. Karena sebelum keberangkatan ke Turki, tulisanku juga lolos mengikuti acara ke Jakarta.

Secara tidak langsung aku izin selama dua minggu. Tentunya pihak pengurus pesantren keberatan memberi izin, karena dua minggu itu aku tidak mengaji di pesantren. Akhirnya pengurus pesantren menyuruhku untuk izin langsung kepada pengasuh pesantren.

Sesuatu yang membuatku takut namun sangat ingin aku lakukan, karena untuk lolos pada event ini susah sekali. Dengan keberanian dan keyakinan akhirnya aku mendapat izin dari pengasuh pesantren. Perasaan takutku lenyap.

Hari keberangakat menuju Turki tentu sangat kutunggu-tunggu. Perjalanan yang memakan kurang lebih 14 jam dengan transit di Amsderdam menjadi pengalaman pertama yang tidak akan ku lupakan. Aku kira 14 jam akan terasa cepat seperti melalui hari-hari, ternyata terasa sangat lama namun nyaman dengan pesawat yang kami naiki.

Hotel yang kami pilih dekat sekali dengan Hagia Sophia. Acara Konferensi Internasional yang kami hadiri sekitar setengah jam dari Hagia Sophia dengan naik taxi. Pada acara ini aku bisa menerapkan kemampuan bahasa inggrisku yang pasti ini pengalaman pertamaku. Aku bersyukur karena di pesantrenku mewajibkan menggunakan bahasa Arab dan bahasa Inggris meskipun hanya sesama santri.

Alhamdulillah, Konferensi berjalan lancar, dan berkeliling Istanbul bonusnya. Padahal dulu impianku keluar negeri adalah negara yang paling dekat Indonesia. Pengalaman ini pasti membuatku menjadi semangat untuk menggapai keluar negeri lagi. Kata siapa  santri tidak bisa? Semangat buat teman-teman yang punya mimpi apapun itu dan tetap yakin dengan berusaha hasilnya tidak akan mengecewakan.


Santri Mengglobal

Bantu santri untuk bisa belajar di luar negeri

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *