Penyebaran aliran sesat dan infiltrasi ajaran agama sudah lama masuk ke Negara Indonesia, hal ini menjadi bom waktu untuk umat muslim sendiri, masyarakat tidak sadar akan besarnya bahaya penyebaran aliran sesat dan penodaan agama, alhasil akidah umat muslim sedikit demi sedikit terkikis. Dalam tulisan beberapa lalu penulis menjelaskan akan pentingnya peran seorang santri dalam menangani penyebaran aliran sesat dan harus satu barisan dengan visi misi MUI (Majelis Ulama Indonesia) dalam merebaknya pemahaman-pemahaman yang merusak akidah umat Islam.

Beberapa faktor adanya penyebaran aliran sesat dan infiltrasi ajaran agama sudah kita ulas sama-sama,  mulai dari penyebab munculnya aliran sesat dan faktor kecenderungan mengikuti aliran sesat baik faktor internal maupun faktor eksternal. MUI memberikan definisi dari aliran keagamaan sesat yaitu Aliran atau pemikiran yang dianut dan diamalkan oleh suatu kelompok masyarakat yang bertentangan dengan akidah dan syari’at Islam, serta menyimpang berdasarkan dalil syar’i begitu juga pemahaman  dan keyakinan yang disebarluaskan dengan konten mengganggu batas-batas pokok-pokok ajaran agama tertentu, membahayakan kedaulatan negara, keamanan  dan kesejahteraan masyarakat.

Mereka yang tidak memahami arti dari rukun antar umat beragama saja kadang suka menyusupi rongga-rongga kehidupan umat yang sudah beragama dengan melihat faktor ekonomi, memang kalau sudah masuk keranah ekonomi akidah pun kadang mudah sekali digoyahkan, apalagi mereka yang kurang dalam memahami isi agama, santri mungkin tidak mampu untuk mencukupi ekonomi mayarakat muslim yang tidak mampu dalam segi ekonomi, namun santri punya bekal untuk menanamkan benih-benih pemahaman agama Islam dengan ilmu yang sudah didapatkan selama menimba ilmu di pondok pesantren.

Mengetahui akan beratnya tanggung jawab santri ternyata amatlah besar, maka santri seharusnya mulai sadar akan tanggung jawabnya menuntut ilmu di pondok pesantren, bukan saatnya lagi untuk merengek tidak betah, ingin pulang, malas-malasan dsb. Karena siapapun yang sudah masuk kedalam pondok pesantren dan telah dinyatakan sebagai santri, maka mereka patut disebut sebagai pejuang, pejuang umat, keluarga dan pejuang untuk dirinya sendiri.

Penulis ingat nasihat yang disampaikan oleh sang Kyai, kalau didalam surat al-fatihah ada ayat “iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’iin”  maka “Na’budu” nya seorang santri adalah belajar dengan sungguh-sungguh dan “nasta’iin” nya ialah ia memohon kepada Allah SWT agar ilmunya berkah dunia akhirat dan bermanfaat bagi orang banyak. Beliau menceritakan bagaimana susah senangnya menjelani kehidupan baik Ketika masih mondok disalah satu pondok pesantren di daerah jawa timur kemudian menunda cita-cita beliau ingin melanjutkan kuliah di S1 di Universitas Al-Azhar Mesir, padahal saat itu beliau sudah mendapatkan tawaran beasiswa, namun amanat sang ayah untuk melanjutkan kuliah di Indonesia saja karena cita-cita sang ayah ingin anaknya membangun perjuangan ayah dalam mengembangkan pondok pesantren. Beliau bercerita seakan berpesan, bahwa perjuangan santri tidak hanya Ketika masih mengemban ilmu di Pondok Pesantren namun setelah keluar dari pesantren perjuangan amalat berat.

Cerita yang membuat penulis sangat kagum dan terharu, beliau dilaporkan mengambil uang Lembaga sebanyak 90 juta yang mana itu adalah sebuah fitnah, laporan itu dibacakan Ketika forum perkumpulan para pimpinan pondok pesantren di Jawa Timur, 75 kyai menyaksikan itu semua, hingga ditengah-tengah perkumpulan itu beliah bersumpah atas nama Allah SWT bahwa semua itu hanyalah fitnah dan memang betul tidak ada bukti sama sekali, karena beliau tidak sama sekali memegang uang Lembaga melainkan ada bagian tertentu. Perjuangan tidak sampai sana, ada dimana belia difitnah Kembali sehingga  beliau dipenjara selama 15 hari atas dugaan penipuan. Dari sini beliau megambil intisarinya, seberat apa pun perjuangan manusia dalam menjalani kehidupan, ingat Allah yang akan selalu menolong selagi kamu tetap berdiri dijalan yang telah Allah tentukan. Mungkin ini isi hati Kyai :

“ya saya sudah lebih jauh memaafkan semuanya yang pernah memfitnah dan mau menjatuhkan saya, umur saya sudah tua, saat ini saya hanya fokus untuk terus memperbaiki ibadah saya kepada Allah, agar Allah ridho”

Sedikit cerita diatas mengajarkan kepada penulis dan pembaca terkhususnya  para santri, untuk terus bersemangat dalam menimba ilmu agama di Pondok Pesantren dan harus menjadi garda terdepan dengan MUI, karena masih banyak masalah umat yang harus dibenahi, seperti halnya kutipan pembuka diawal tulisan ini, akan maraknya penyebaran pemahaman aliran sesat yang merusak akidah dan infiltrasi ajaran agama, begitupun lika-liku dalam perjuangan berdakwah.

Cibodas, 26 Desember 2020


0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *