Tinggal di negara besar seperti Amerika Serikat tentu tidak mudah bagi seorang perantau Muslim, apalagi pelajar yang juga membawa keluarganya. Butuh semangat dan tekad kuat untuk bertahan. Terutama dalam menempuh studi S3 dengan aneka drama hidup dan perjuangan penting.

Kali ini ada kisah inspirasional dari salah satu diaspora Muslim Indonesia yang telah melakoni hidup sebagai mahasiswa doktoral di Negeri Paman Sam. Pria bernama Abdurrahman Mas’ud yang sekaligus dosen ini memperoleh beasiswa Fullbright—program yang konon paling bergengsi di Amerika Serikat. Bagaimana perjalanannya selama di sana dan usaha mengenalkan citra Islam ke masyarakat Barat bisa disimak di tulisan ini.

Mengenalkan Pesantren, Mengenalkan Keramahan Islam

Dalam proses menempuh studi doktoral di tanah baru, Mas’ud menjaga komitmennya terhadap keberlangsungan tradisi pesantren. Ia memegang nilai-nilai yang diwariskan leluhur sebagai ruang pendidikan ini secara teguh. Wujud nyatanya dapat ditengarai dari judul disertasinya: The Pesantren Architects and their Socio-Religious Teaching yang diloloskan pada tahun 1997.

Versi bukunya pun telah diterbitkan melalui penerjemahan Slamet Untung berjudul Intelektual Pesantren: Perhelatan Agama dan Tradisi oleh Penerbit LKiS Yogyakarta (2004). Ia mencoba untuk mengenalkan wajah Islam yang tidak tunggal dan kaku sebagaimana di Timur Tengah.

Sebagai pemuda yang sudah terbiasa dengan wacana pemikiran di luar komunitasnya sendiri, ia mencoba tetap terbuka (open-minded) atas nilai-nilai baru sembari tetap mempertahankan tradisi lama secara proporsional dan rasional. Dari situ, walaupun tetap berkomitmen dengan tradisi, ia berupaya terus agar tetap objektif dan kritis.

Mengenai pengalaman menarik saat di Amerika, terjadi pada saat dua bulan pertama masa persiapan kuliah di University of California Los Angeles (UCLA). Kegiatan ini dilakukan di Minnessotta. Di sinilah Mas’ud berjumpa sekaligus merasakan langsung bagaimana hidup tinggal bersama dengan pendeta, dan teman Jepang.

Melalui kegiatan itu, kami bisa saling memahami, bersitukar ide dan pandangan, menghormati tradisi keyakinan masing-masing, tanpa merubah keimanan kita. Jiwa kepesantrenan Mas’ud tetap bisa menerima perbedaan dan membagikan kasih antarsesama tanpa khawatir berkurang secara iman.

Dari Kerja Part-Time sampai Asisten Peneliti

Karena biaya kebutuhan dasar di Amerika cukup besar, Mas’ud juga sempat menjalani pekerjaan paruh waktu. Ini demi menghidupi istri dan dua orang puteranya. Beasiswa lebih cukup untuk dua orang saja namun jika ditambah dengan kebutuhan anak, tentu perlu tambahan.

Pekerjaan paruh waktu pertamanya adalah di perpustakaan kampus. Selama 16 jam dalam seminggu ia harus aktif membantu staff perpustakaan dengan aneka bentuk kerja. Selain itu ia juga memenuhi job panggilan untuk ceramah di negara bagian yang cukup jauh dari California. Mulai dari New York, Boston, hingga Texas ia sanggupi.

Tanpa disadari semua itu membangun jalan hidupnya sehingga tiba saat ia menjadi asisten peneliti dari Prof. Sabagh di UCLA. Ini ia tekuni selama dua tahun. Menjadi asisten peneliti tentu saja membuatnya bisa merasakan kemakmuran finansial dari sebelumnya. Betapa tidak, setiap jam ia diupah lebih dari 20 USD dan setiap harinya ia bekerja selama 10 jam. Tinggal dikalikan saja.

Lebih mengejutkan lagi, sewaktu terjun lapangan untuk riset, semua bentuk akomodasi akan ditanggung oleh lembaga. Asisten peneliti boleh menginap di mana saja asal jelas laporan dan ada bukti tertulis. Dari sini ia mengenyam kesejahteraan sebagai peneliti.

Strategi Empati untuk Menunjukkan Wajah Ramah Islam

Ketika menjadi dosen tamu (visiting professor), Mas’ud menerapkan pendekatan empatik ke mahasiswanya. Sebagai contoh, saat ia mengajar mahasiswa yang mayoritas Kristen Amerika, Mas’ud membacakan puisi dari tokoh Kristen. Ia juga menjelaskan praktik keagamaan tertentu yang bukan cuma milik orang Islam, seperti puasa. Bahwa puasa juga eksis dalam tradisi Kristen, Yahudi, hingga Yunani dan Mesir Kuno, sampai Cina.

Interaksi lintas buadaya di sini terasa tidak ada hambatan. Itu karena mereka lebih sering mendiskusikan persoalan kemanusiaan dengan peradabannya masing-masing. Empati dan keberpihakan pada kemanusiaan inilah yang membawa kita pada komitmen kebersamaan, sekalipun memiliki keyakinan yang berbeda-beda.

Sementara banyak kelompok Muslim di luar AS, yang memandang kelompok di luar internalnya adalah najis, sesat, dan mereka mengharamkannya untuk menginjak masjid. Padahal Nabi Muhammad sendiri pernah menyambut rombongan Kristen Abissinia (Habsyah) atau Ethiopia dan mempersilakan mereka menginap di Masjid Madinah.

Bahkan Nabi sendiri secara langsung menyambut mereka seraya tercatat ungkapan beliau yang terkenal, “Rombongan ini dulu (di tahun 615 M) memberi penghormatan khusus pada sahabat-sahabatku. Maka kini aku ingin menyambut hangat mereka dengan tanganku sendiri sebagai ganti penghormatan mereka pada sahabatku”.

Panorama di masjid-masjid AS, khususnya di sejumlah Islamic Center, rata-rata juga memiliki tradisi menerima pemeluk agama lain ketika bulan Ramadan. Penerimaan itu juga disertai dengan menggelar dialog lintas budaya dan keyakinan. Ruang ini, dengan didukung atmosfer kondusif bulan suci Ramadan, telah menjadi media yang manis dan humanis dalam memprakarsai dialog kemanusiaan. Ini yang pada gilirannya nanti dapat menjadi bagian dari solusi ketidakadilan sistem global.[mnw]

*) Tulisan ini adalah rangkuman dari diseminasi penelitian Abdurrahman Mas’ud diterbitkan Puslitbang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan Kementerian Agama tahun 2021.

*)  Sumber : iqra.id


Santri Mengglobal

Bantu santri untuk bisa belajar di luar negeri