Dapur Mriah, nama restoran seafood itu, berdiri megah di Jalan Bhayangkara 108-109, Mojokerto. Dengan andalan menu seafood berbumbu khas Nusantara, resto ini siap berkompetisi dengan rumah makan lainnya. Dapur M’riah bukan resto sembarang. Rumah makan ini merupakan bagian dari unit usaha PT Rjan Dinamis Selaras (RDS), sebuah perusahaan besar yang didirikan oleh santri.

Nama Dapur Mriah pun diambil dari gabungan nama kiai dan pesantrennya. “M” menjadi representasi dari KH Mahfudz Saubari, sedangkan “Riah” merupakan singkatan dari Riyadhul Jannah. Sudah ada enam unit Dapur Mriah yang beroperasi. Empat berada di Sidoarjo, satu di Mojokerto lainnya ada di Pontianak, Kalimantan Barat.

Ada beberapa prinsip Dapur M’riah yang dijadikan fondasi pengelola saat ini. Di antaranya, resto ini menyeimbangkan sosial, material, dan spiritual. Tak heran jika Dapur Mriah punya tiga orientasi yakni bisnis, sosial dan edukasi.

Resto cepat saji dengan bumbu khas Indonesia ini pun kian berkembang dengan brand M2M. Pada 2015, M2M sudah memiliki gerai di lima kota di Jawa Timur. Satu outlet di Jakarta, satu di Kudus, Jawa Tengah. Hingga 2017, setidaknya ada 40 outlet M2M yang berdiri dengan skema frenchise.

Tangan Dingin Sang Kiai

Mahfudz Saubari lahir di Demak, Jawa Tengah, 20 November 1954. Mahfudz harus lahir ke bumi tanpa ditemani ayahnya yang telah tiada. Tak lama kemudian, ibunya juga wafat saat Mahfudz masih belia. Mahfudz kecil mendapat pendidikan dari neneknya yang menerapkan kedisiplinan tingkat tinggi. Ketika beranjak remaja, Kiai Mahfudz belajar di pesantren. Terakhir, dia menjadi santri di Pondok Pesantren Al-Falah Ploso Kediri Jawa Timur sebelum mendalami ilmu dari Dr. Assayyid Muhammad bin Alawy Al-Maliki Makkah. Kiai Mahfudz juga menuntut ilmu di Mesir.

Setelah kembali ke Tanah Air, Kiai Mahfudz berinisiatif menanam kangkung di lahan pesantren. Bibitnya diambil dari Nusa Tenggara Barat (NTB). Dia berniat akan menggunakan bahan kangkung sebagai salah satu menu di restorannya. Pada 2010, Kiai Mahfudz pun membuka Dapur M’riah.

Perlahan, bisnis Kiai Mahfudz terus berkembang. Dia lalu membangun perusahaan sendiri yang diberi nama PT Rijan Dinamis Selaras(RDS). Di sini, Kiai Mahfudz menjabat sebagai presiden komisaris.

Berbagai jenis usaha sudah dibangun oleh PTRDS. Beberapa di antaranya yakni kuliner, properti, wedding,  traveling, konveksi, rental, organik, air mineral, peternakan, marinasi, dan retail. Meski demikian, bisnis kuliner PT RDS terlihat paling berkembang. Kiai Mahfudz memilih untuk membesarkan bisnis kuliner dengan alasan bisnis kuliner merupakan bisnis abadi.

Pesantren Riyadhul Jannah

Pondok Pesantren Riyadhul Jannah terletak di salah satu kecamatan kawasan wisata Segi Tiga Emas yang dicanangkan pemerintah Kabupaten Mojokerto. Tepatnya ada di tepi jalan raya Mojosari – Pacet Km 19 Desa Pacet, Kecamatan Pacet Kabupaten Mojokerto.

Pada awal 1987, DR. As sayyid Muhammad bin Alawy Al-Maliki yang merupakan guru dari KH. Mahfudz Syaubari mengadakan kunjungan ke Pacet. Dr. As-Sayyid Muhammad lantas menyarankan kepada Kiai Mahfudz untuk mencari tempat yang lebih representatif bagi sebuah pesantren.

Tiga tahun kemudian, saran dari sang guru bisa terealisasi dengan dibelinya tanah yang menjadi lokasi pesantren saat ini di Jalan Hayam Wuruk 22 Pacet, Mojokerto. Maka dimulailah pembangunan pesantren baru yang diberi nama Riyadhul Jannah. Nama Riyadhul Jannah merupakan pemberian dari Dr. As-Sayyid Muhammad bin Alawy Al-Maliki.

Dari segi kurikulum pendidikan, “Riyadhul Jannah” membagi menjadi dua kategori utama. Pertama pendidikan formal pesantren dan yang kedua adalah pendidikan formal nasional. Jumlah santri dan santriwati saat ini yang sudah mencapai 512 orang. Sebanyak 194 di antaranya adalah santriwati. Saat ini Riyadhul Jannah sudah menyediakan 34 asatidz dan asatidzah untuk mengurus santri dan santriwatinya.

Pesantren juga menyelenggarakan pendidikan formal dari level Sekolah Menengah Pertama (SMP). Sementara untuk usia SD masih bersekolah di sekitar Pacet. SMP yang diberi nama SMP Riydlul Jannah ini sudah mulai berjalan dari tahun 2010. Setelah itu, para santri bisa sekolah di SMA Riyadhul Jannah mulai beroperasi dari tahun 2014. Tak cukup hingga tingkat sekolah menengah atas, pihak pondok pesantren mencetuskan pendirian pendidikan tingkat tinggi dengan fokus ekonomi syariah pada 21 Januari 2017 lalu.

Punya Modal Kemandirian

Pesantren memiliki potensi besar dalam mengembangkan ekonomi di sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Sifat dasar pesantren berupa kemandirian menjadi modal dasar bagi pesantren untuk berkembang menjadi tak sekadar lembaga pendidikan, melainkan juga lembaga ekonomi.

KH Mahfudz Syaubari, MA. sebagai pengasuh sekaligus pendiri Pondok Pesantren “Riyadhul Jannah”, dia selalu berupaya mengarahkan kemandirian para santri untuk meningkatkan kualitas kehidupan agama, bangsa, dan negara. Bahkan hal ini tertuang dalam visi pondok pesantren yaitu membentuk manusia yang ber-imtaq, berbudi pekerti luhur, berkarakter, cerdas, mandiri, memiliki etos kerja, kompetitif, peduli serta bertanggungjawab pada agama, bangsa, dan negara. (RMF)

*) Tulisan ini adalah rangkuman dari diseminasi penelitian Hj. Faiqah yang diterbitkan Puslitbang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan Kementerian Agama tahun 2017.

*) Sumber : iqra.id


Santri Mengglobal

Bantu santri untuk bisa belajar di luar negeri