SANTRI MENGGLOBAL – Komunitas Literasi Santri Pondok Pesantren Nurul Ikhlas (Pontren Nuris) Jembrana Bali adakan Webinar Internasional pada Festival Literasi Santri Bali, Sabtu 4 Mei 2024 melalui kanal Zoom Meeting. Webinar dengan tema Santri, Literasi dan Indonesia ini dibuka oleh KH. Fathur Rahim, Pengasuh Pontren Nuris sekaligus Ketua STIT Jembrana dan turut hadir memberikan opening remarks, Verena Meyer, Dosen Studi Islam di Asia Tenggara, Leiden University Belanda.

Acara yang dihadiri oleh para santri baik daring dan luring ini datangkan Dito Alif Pratama, Founder Santri Mengglobal dan juga selaku Dosen PTIQ Jakarta. Dito, sapaan akrabnya, menjelaskan bahwa belajar di luar negeri merupakan kesempatan belajar yang sangat berharga dan priviledge bagi para santri.

“Yang menurut saya menarik dan perlu kita highlight bersama adalah teman-teman santri dengan memberikan kesempatan belajar di luar negeri, bukan berarti santri nantinya merasa takut atau merasa minder dengan memampuan yang dimiliki sekarang. Ini justru merupakan keistimewaan. Hari ini kita bisa melihat banyak (para santri) yang sukses meraihnya dan juga berprestasi di luar negeri.” Jelas Dito awali paparannya.

Lulusan Master di Vrije Universiteit Belanda ini juga mengilustrasikan untuk mempermudah memetakan mimpi dan tujuan hidup dengan konsep Ikigai dari Jepang.

“Hari ini para santri harus mulai memetakan apa yang menjadi keinginan kita, saran saya adalah dengan konsep ikigai. Sebuah konsep dari Jepang, yaitu Reason for being. Alasan kenapa sih kamu melakukan sesuatu? Alasan kenapa kamu hidup?”

Dengan pertanyaan dasar tersebut para santri dapat mengetahui kemampuan diri masing-masing. Dito melanjutkan bahwa setelah itu kita akhirnya bisa melakukan sesuai kapasitas kita dan tidak lupa dia mengingatkan agar selalu bertanya kepada hati kita.

“Melakukan sesuatu itu harus sesuai dengan rel dan kemampuan kita. Jangan paksakan segala sesuatu harus kita lakukan semua. Cara paling mudah adalah dengan memulai bertanya kepada hati masing-masing. Kalau emang kita yakin hati kita akan memberikan jawaban yang terbaik. Kita akan mendapat jawaban yg tulus dari hati kita. Tanya teman terdekat juga jika masih belum menemukannya dan jangan lupa ber-istikhoroh.” Lanjut beliau.

Di akhir penyampain materi, Dito mengingatkan bahwa belajar itu tidak hanya di kelas karena saat ini banyak media dan ruang yang bisa digunakan untuk belajar.

“Pelajaran itu tidak selamanya hanya didapatkan di kelas. Kalian mengikuti forum seperti ini yang dilakukan oleh Sanubari ini sudah sangat keren karena ini merupakan sebuah inisiatif yang mahal dan jangan disepelekan. Makanya diantara hal penting yang harus dilakukan juga melatih komunikasi, kolaborasi, critical thinking, dan creativity.” Tutup mahasiswa Doktoral Universitas Internasional Islam Indonesia.

Webinar ini juga turut dihadiri oleh M. Akmaluddin dan Fadhli Lukman dari UIN Sunan Kalijaga dan M. Taufiq Maulana selaku Founder Aswaja Dewata dan penulis Buku Fikih Muslim Bali. Acara yang dimoderatori oleh Efri Arsyad Rizal, Founder Sanubari Nuris sukses diadakan dan mendapatkan atensi dari berbagai pihak salah satunya Kementerian Agama Kabupaten Jembrana Bali.


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *