Oleh Achmad Fachrudin
Dosen Universitas PTIQ Jakarta
Perjalanan selama lima hari, sejak 30 Juli hingga 4 Agustus 2026, mengantarkan sejumlah dosen Universitas PTIQ Jakarta ke Jepang. Rombongan tersebut merupakan bagian dari 26 dosen dan mahasiswa yang berangkat untuk melaksanakan sejumlah kegiatan akademik dan pengabdian kepada masyarakat.
Lima dosen yang mengikuti kunjungan tersebut adalah Dr. Topikurohman, Dekan Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi; Dr. Lukman Hakim, Dekan Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam; Dr. Dito Alif Pratama, Dekan Fakultas Syariah sekaligus pemandu perjalanan; Dr. Nanang Kuswara; serta saya sendiri. Sementara itu, sekitar 21 mahasiswa melaksanakan Kuliah Khidmah Mahasiswa (KKM) selama kurang lebih dua minggu di sejumlah wilayah di Jepang.
Kunjungan para dosen ke Jepang memiliki sejumlah agenda akademik dan kelembagaan. Di antaranya, menyampaikan ceramah mengenai isu-isu keagamaan kontemporer kepada masyarakat Muslim setempat, menjadi khatib Jumat di beberapa masjid, berdialog dengan peneliti dari Universitas Waseda, serta menandatangani kerja sama dengan Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Jepang.
Dalam perjalanan tersebut, kami juga berkesempatan berdialog dengan seorang peneliti asal Indonesia yang tengah melakukan riset mengenai perdagangan manusia di sejumlah negara Asia.
Di balik berbagai agenda resmi itu, tersimpan pengalaman lain yang tidak direncanakan sebelumnya. Hampir setiap hari kami berpindah tempat menggunakan kereta api, berjalan kaki dari satu stasiun ke stasiun lainnya, serta berinteraksi secara langsung dengan masyarakat dan ruang-ruang publik.
Tanpa disadari, perjalanan tersebut menjadi kesempatan untuk mengamati kehidupan masyarakat Jepang dari jarak dekat. Dari pengamatan itulah saya menemukan berbagai kenyataan sederhana yang meninggalkan kesan mendalam, terutama mengenai kedisiplinan, kebersihan, tanggung jawab, kemandirian, dan penghormatan terhadap hak orang lain.
Dari berbagai kenyataan empiris tersebut muncul sebuah paradoks yang menggugah hati. Jepang, negara yang mayoritas penduduknya bukan Muslim, justru memperlihatkan banyak perilaku yang selaras dengan nilai-nilai universal Al-Qur’an.
Nilai-nilai tersebut tidak hadir dalam bentuk simbol keagamaan. Ia tidak selalu terdengar melalui lantunan ayat dan tidak pula dipamerkan melalui slogan-slogan moral. Nilai itu hadir dalam tindakan sehari-hari yang terkadang dianggap sederhana: tertib mengantre, menjaga kebersihan, menghargai waktu, merawat fasilitas umum, serta menghormati hak orang lain.
Saat itulah saya merasa sedang menyaksikan sebuah bentuk Living Qur’an: nilai-nilai Al-Qur’an yang hidup bukan sekadar dalam ucapan, melainkan menjelma menjadi perilaku dan kebiasaan.
Pengalaman tersebut mengingatkan saya pada berbagai pesan moral yang sering disampaikan melalui ceramah, mimbar dakwah, dan ruang-ruang pendidikan Islam. Al-Qur’an mengajarkan pentingnya menjaga kesucian dan kebersihan sebagaimana dapat dipahami dari QS. Al-Baqarah ayat 222 dan QS. Al-Muddassir ayat 4. Al-Qur’an juga menegaskan pentingnya waktu dan kedisiplinan dalam QS. Al-‘Ashr ayat 1–3 serta QS. Al-Jumu‘ah ayat 9–10.
Sementara itu, Nabi Muhammad saw. bersabda bahwa Allah Mahaindah dan menyukai keindahan. Pesan-pesan tersebut begitu akrab di telinga kita. Namun, selama berada di Jepang, saya melihat sebagian dari nilai itu menjelma menjadi budaya yang hidup dalam keseharian masyarakat.
Pengalaman tersebut juga mengingatkan saya pada sebuah ungkapan populer yang dinisbatkan kepada Syaikh Muhammad Abduh, bahwa Islam terkadang tertutupi oleh perilaku umat Islam sendiri. Ada pula ungkapan yang menyatakan bahwa seseorang dapat menemukan nilai-nilai Islam di negeri yang mayoritas penduduknya bukan Muslim, tetapi tidak selalu menemukan nilai tersebut dalam kehidupan sebagian masyarakat Muslim.
Terlepas dari perdebatan mengenai autentisitas ungkapan tersebut, pesan moral yang dikandungnya terasa relevan. Nilai-nilai luhur tidak selalu hadir dalam simbol, tetapi dapat terlihat secara nyata dalam karakter masyarakat yang menjadikannya sebagai kebiasaan hidup.
Kesan pertama yang saya tangkap bukanlah kemegahan gedung pencakar langit ataupun kecanggihan teknologi Jepang, melainkan kedisiplinan yang mengalir secara alami dalam setiap aktivitas masyarakatnya.
Bandara, terminal, dan terutama stasiun kereta api menjadi ruang belajar yang memperlihatkan bagaimana disiplin telah menjelma menjadi budaya. Ia bukan sekadar peraturan yang dipatuhi karena takut terhadap sanksi.
Setiap hari, ribuan orang datang dan pergi dalam waktu yang hampir bersamaan. Meskipun demikian, suasana tetap tenang dan tertib. Nyaris tidak terdengar suara gaduh. Tidak terlihat orang saling menyerobot antrean atau memaksakan diri masuk ke dalam kereta sebelum seluruh penumpang turun.
Di eskalator, setiap orang berdiri pada sisi yang telah ditentukan agar sisi lainnya tetap dapat digunakan oleh mereka yang ingin berjalan lebih cepat. Tidak ada petugas yang terus-menerus mengingatkan, tetapi setiap orang memahami apa yang harus dilakukan.
Pemandangan tersebut semakin mengesankan ketika menyaksikan sistem transportasi di Stasiun Shinjuku, Tokyo, Shibuya, dan Osaka bekerja dengan tingkat ketepatan yang tinggi. Kereta datang sesuai jadwal dan penumpang pun terbiasa datang tepat waktu.
Seluruh layanan transportasi ditopang oleh teknologi digital yang canggih. Kemampuan membaca peta digital dan menggunakan aplikasi navigasi menjadi kebutuhan yang hampir tidak dapat diabaikan. Kesalahan memilih jalur atau peron dapat membuat seseorang tersesat atau terlambat sampai di tujuan.
Namun, kecanggihan teknologi tersebut tidak akan bekerja dengan baik tanpa kedisiplinan masyarakat yang mendukungnya. Teknologi dan karakter berjalan beriringan serta saling menguatkan. Di Jepang, disiplin bukan lagi sekadar kewajiban administratif, melainkan karakter kolektif yang mengakar dalam kehidupan sehari-hari.
Pelajaran berikutnya datang dari sesuatu yang tampak sederhana, tetapi sesungguhnya sangat mendasar: kebersihan.
Ketika menyusuri kawasan permukiman, trotoar, taman kota, dan jalan-jalan utama, sangat sulit menemukan sampah yang berserakan. Hal yang lebih mengejutkan, tempat sampah justru tidak banyak ditemukan di ruang publik. Alih-alih bergantung sepenuhnya pada fasilitas, masyarakat terbiasa membawa pulang sampah atau menyimpannya hingga menemukan tempat pembuangan yang sesuai.
Kebiasaan tersebut juga terlihat di restoran, kantin, dan hotel. Seusai makan, pelanggan dengan kesadaran sendiri mengembalikan baki, piring, gelas, serta peralatan makan ke tempat yang telah disediakan.
Tidak ada anggapan bahwa membersihkan meja sepenuhnya merupakan tugas pegawai. Setiap orang merasa bertanggung jawab terhadap bekas aktivitasnya sendiri. Dari kebiasaan-kebiasaan kecil inilah tumbuh budaya saling menghormati dan menjaga ruang bersama.
Semakin lama mengamati kehidupan masyarakat Jepang, semakin terasa bahwa kebersihan tidak hanya dibangun oleh keberadaan petugas kebersihan. Kebersihan terutama tumbuh dari kesadaran pribadi dan tanggung jawab moral terhadap lingkungan.
Meskipun demikian, aturan tetap ditegakkan secara konsisten. Hal tersebut terlihat, misalnya, dalam kebijakan merokok. Di sejumlah lokasi di Tokyo, pemerintah menyediakan area khusus berukuran terbatas bagi para perokok. Di luar area tersebut, masyarakat tidak diperkenankan merokok sembarangan. Pelanggaran terhadap ketentuan itu dapat dikenai sanksi sesuai dengan peraturan yang berlaku.
Ketegasan aturan yang berpadu dengan kesadaran warga berhasil menciptakan ruang publik yang bersih, sehat, dan nyaman bagi semua orang.
Pemandangan serupa juga terlihat di sejumlah sungai di Tokyo. Airnya tampak bersih, tepian sungai tertata rapi, dan hampir tidak terlihat sampah plastik maupun limbah rumah tangga yang mengapung.
Sungai tidak diperlakukan sebagai “halaman belakang” untuk membuang berbagai benda yang tidak lagi diinginkan. Sungai ditempatkan sebagai bagian dari ruang publik yang harus dijaga bersama. Bahkan, kawasan di sekitarnya dimanfaatkan sebagai tempat rekreasi, jalur pejalan kaki, dan ruang bagi masyarakat untuk menikmati suasana kota.
Pemandangan tersebut menyadarkan saya bahwa kebersihan di Jepang bukan sekadar slogan atau program pemerintah. Kebersihan telah menjelma menjadi budaya kolektif yang meresap ke berbagai sudut kehidupan. Kesadaran untuk tidak mengotori lingkungan tumbuh dari diri setiap warga sehingga sungai tetap menjadi bagian kota yang bersih, indah, dan bermanfaat.
Hal lain yang menarik adalah budaya berjalan kaki. Di berbagai kawasan di Tokyo, berjalan kaki bukan sekadar pilihan transportasi, melainkan telah menjadi bagian dari gaya hidup.
Setiap hari masyarakat berjalan kaki atau bersepeda menuju stasiun, sekolah, kantor, dan pusat perbelanjaan. Tempat penyewaan dan parkir sepeda mudah ditemukan di kawasan permukiman, perkantoran, serta pusat-pusat aktivitas masyarakat.
Sepeda tidak dipandang sebagai simbol keterbatasan ekonomi, tetapi sebagai sarana mobilitas yang praktis, sehat, dan ramah lingkungan. Karena itu, deretan sepeda menjadi pemandangan yang lazim dijumpai di berbagai tempat.
Budaya berjalan kaki dan bersepeda membuat masyarakat tetap aktif secara fisik dalam menjalani rutinitas sehari-hari. Aktivitas tersebut tidak hanya mendukung kesehatan, tetapi juga mengurangi ketergantungan terhadap kendaraan pribadi.
Saya juga memperhatikan bahwa bangku atau tempat duduk di sejumlah ruang publik tersedia dalam jumlah terbatas. Di banyak stasiun, terminal, dan trotoar, masyarakat datang, berjalan, menyelesaikan urusan, kemudian melanjutkan perjalanan. Ruang publik didesain terutama untuk mendukung mobilitas, produktivitas, dan efisiensi.
Mobil pribadi pun tidak selalu menjadi ukuran utama prestise sosial. Sistem transportasi umum yang cepat, nyaman, terintegrasi, dan tepat waktu membuat banyak orang lebih memilih menggunakan kereta api, bus, atau sepeda.
Biaya parkir dan berbagai konsekuensi kepemilikan kendaraan turut membuat masyarakat mempertimbangkan secara rasional moda transportasi yang akan digunakan. Dampaknya dapat dirasakan melalui lalu lintas yang lebih teratur, tingkat kemacetan yang relatif terkendali, dan kualitas lingkungan yang lebih baik.
Nilai kemandirian juga ditanamkan sejak usia dini. Anak-anak terbiasa berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki atau menggunakan kereta tanpa harus selalu diantar orang tua. Mereka belajar mengatur waktu, menjaga barang bawaan, membaca arah, dan bertanggung jawab terhadap diri sendiri.
Pemandangan yang tidak kalah mengesankan terlihat pada kalangan lanjut usia. Banyak di antara mereka yang tetap aktif bekerja atau mengabdikan diri sebagai penjaga perlintasan kereta, petugas parkir, pengelola taman, dan relawan pelayanan publik.
Usia lanjut tidak selalu dipandang sebagai akhir produktivitas. Selama masih memiliki kemampuan, mereka tetap berusaha memberikan manfaat kepada masyarakat.
Budaya mandiri tersebut berlanjut hingga dunia pendidikan dan berbagai tempat umum. Di kantin kampus dan restoran cepat saji, setiap pelanggan mengembalikan sendiri baki, piring, gelas, dan sisa makanan ke tempat yang telah disediakan. Sampah pun dipilah berdasarkan kategorinya sebelum dibuang.
Tidak ada pekerjaan yang dianggap terlalu rendah untuk dilakukan sendiri. Justru dari kebiasaan-kebiasaan sederhana itulah tumbuh rasa tanggung jawab, penghormatan terhadap orang lain, dan kepedulian terhadap ruang publik.
Saya semakin memahami bahwa masyarakat yang maju tidak hanya dibentuk oleh kebijakan besar, tetapi juga oleh kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten oleh setiap warganya.
Pemandangan lain yang menarik adalah kawasan permukiman di kota-kota Jepang yang tampak tertata rapi dan relatif serasi. Rumah-rumah dibangun dengan ukuran yang proporsional, bersih, dan terawat. Kontras mencolok antara rumah yang sangat mewah dan rumah kumuh tidak banyak ditemukan dalam satu kawasan.
Perbedaan tingkat ekonomi tentu tetap ada, tetapi tidak selalu diekspresikan melalui kesenjangan visual yang ekstrem. Lingkungan permukiman memancarkan kesan sederhana, nyaman, dan bermartabat bagi seluruh warganya.
Penataan ruang yang baik, kepatuhan terhadap aturan tata kota, dan budaya merawat lingkungan menjadikan kawasan hunian terlihat harmonis. Keadaan tersebut mencerminkan masyarakat yang lebih mengedepankan keteraturan, fungsi, dan kualitas hidup daripada sekadar mempertontonkan kemewahan.
Ketika pesawat mulai meninggalkan landasan Negeri Sakura, yang saya bawa pulang ternyata bukan sekadar deretan foto, cendera mata, atau kenangan tentang kota-kota yang bersih dan modern.
Ada sesuatu yang jauh lebih berharga: sebuah perenungan yang perlahan mengusik nurani. Sepanjang perjalanan itu, saya seolah diajak menyaksikan bagaimana nilai-nilai yang selama ini akrab dibaca dalam ayat-ayat Al-Qur’an dapat hidup dan bekerja secara nyata dalam keseharian masyarakat.
Pengalaman tersebut menghadirkan pertanyaan yang terus bergema dalam hati. Bagaimana mungkin masyarakat yang mayoritas tidak mengenal Al-Qur’an mampu menampilkan begitu banyak perilaku yang selaras dengan pesan-pesan universalnya, sementara di sebagian masyarakat Muslim nilai-nilai tersebut terkadang masih berhenti sebagai wacana, slogan, atau seruan moral?
Pertanyaan tersebut bukan untuk membandingkan siapa yang lebih baik. Ia merupakan undangan untuk melakukan muhasabah: sudah sejauh mana Al-Qur’an benar-benar membentuk cara kita hidup?
Perjalanan singkat ini menyadarkan saya bahwa hakikat Living Qur’an tidak hanya terlihat pada semaraknya simbol-simbol keagamaan, banyaknya lantunan ayat, atau kuatnya identitas keislaman. Living Qur’an hadir ketika ajaran Al-Qur’an menjelma menjadi karakter: disiplin dalam memanfaatkan waktu, jujur dalam bertindak, menjaga kebersihan lingkungan, bertanggung jawab terhadap ruang publik, menghormati sesama, serta bekerja dengan sungguh-sungguh.
Nilai-nilai tersebutlah yang dapat melahirkan masyarakat yang tertib, nyaman, produktif, dan saling menghargai.
Mungkin inilah pelajaran paling berharga yang saya temukan di Jepang. Kemajuan suatu bangsa tidak selalu dimulai dari proyek-proyek besar atau teknologi yang canggih. Kemajuan juga tumbuh dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan dengan penuh kesadaran dan konsisten oleh seluruh warganya.
Sebagai seorang Muslim, saya pulang dengan keyakinan yang semakin kuat bahwa tugas kita bukan hanya membaca, menghafal, atau mengagungkan Al-Qur’an. Tugas yang tidak kalah penting adalah menghadirkan nilai-nilainya dalam perilaku sehari-hari sehingga rahmat Al-Qur’an benar-benar dapat dirasakan oleh siapa pun dan di mana pun.
Barangkali, justru di Negeri Sakura itulah saya menemukan makna Living Qur’an yang paling membekas.